PembelajaranPijar KesadaranSpiritual

PENGALAMAN MELAMPAUI KONSEP

14 June 2021 Persaudaraan Matahari No Comments
PENGALAMAN MELAMPAUI KONSEP

Ketika saya mulai sadar bahwa saya sedang marah, saya mulai menarik napas untuk terhubung dan melepas napas selembut yang saya bisa. Rasa itu menghantarkan tenang ke seluruh tubuh saya. Anak-anak saya pun biasanya mundur teratur mengetahui ibunya bersikap seperti ini karena sebentar lagi semua akan kembali baik-baik saja.

Setelah tenang saya menggali lagi akar kemarahan saya. Seringkali itu muncul karena saya masih punya rasa kecewa. Kenapa saya kecewa? Karena saya belum mempunyai penerimaan yang cukup. Ketika sesuatu tidak berjalan sebagaimana yang saya harapkan, rasa tidak menerima itu bisa memunculkan berbagai emosi, seperti kecewa, marah, sedih, menyesal, takut, merasa bersalah, bahkan malu.

Setelah saya sadari hal tersebut lebih jauh, ternyata kita seringkali sulit menerima. Ya, apalagi menerima dengan ikhlas suatu kejadian.

Kenapa kita tidak mempunyai penerimaan itu? Karena kita berpegang pada suatu konsep. Konsep ideal yang tidak sama antara satu orang dengan orang lainnya, membuat kita sering mengalami benturan. Kita membatasi diri kita sehingga kita tidak bisa menyatu dengan semua.

Setelah belajar pada Guru Setyo Hajar Dewantoro (Mas Guru), saya diberi petunjuk untuk melampui konsep. Hal pertama yang saya lakukan adalah membuka diri. Saya terbuka terhadap apa yang Mas Guru wedarkan. Pengetahuan dari Mas Guru adalah pengetahuan untuk jalan saya memperbaiki semua konsep saya yang keliru selama ini.

Konsep yang keliru menciptakan ilusi dalam pikiran. Ketika kita berpegang pada konsep yang keliru, kita pun menjadi mudah menyalahkan orang lain. Kita tidak bisa menerima, apalagi mengerti dinamika orang lain. Ya, karena kita berpegang pada konsep ideal kita sendiri.

Setelah bertemu Mas Guru, saya merasa saya sudah bisa mengubah konsep-konsep saya yang keliru. Saya menemukan konsep baru yang saya anggap benar. Anehnya masih saja ada rasa kecewa saya atau ketakutan saya ketika saya belum bisa mengikuti apa yang Mas Guru ajarkan. Kemudian muncul juga kekhawatiran kepada orang lain ketika apa yang dilakukan tidak sejalan. Lagi-lagi ada benturan-benturan dalam diri saya. Hmmmm, kenapa ini?

Saya berjalan lebih jauh lagi. Akhirnya, saya menyadari ada yang aneh dari penafsiran saya selama ini.

Mas Guru mengajarkan untuk melampaui konsep, tapi saya malah menjadikan “pengetahuan” yang diwedarkan Mas Guru sebagai “konsep”. Di sinilah letak kekeliruan saya. Yakni, ketika saya tidak bisa mengikuti, saya pun menjadi bingung. Hi hi hi . . .

Sampai pada waktunya, saya menyadari bahwa yang Mas Guru ajarkan bukanlah konsep.

Konsep itu terbatas, dibatasi ruang dan waktu. Suatu konsep bisa menjadi benar hanya pada ruang dan waktu tertentu. Konsep itu dibuat oleh ego pikiran. Mereka yang berkuasa atas dasar egonya seringkali mempakemkan suatu konsep agar membentuk keseragaman.

Setiap jiwa merupakan ciptaanNya yang unik. Sifat jiwa yang bisa melampaui ruang dan waktu (tanpa batas) menunjukkan bahwa dalam perjalanan jiwa kita tidak bisa menerapkan konsep-konsep (yang sifatnya terbatas).

Saya menyadari bahwa konsep itu tidak ada pada level kesadaran jiwa. Ketika kita berpegang pada konsep, kita tengah membatasi diri kita dalam sudut pandang ruang dan waktu yang sempit.

Di level kesadaran hanya ada pengetahuan. Pengetahuan Semesta itu begitu luas, pengetahuan itu tidak mempunyai batasan ruang dan waktu, seperti halnya konsep.

Saya baru menyadari bahwa apa yang disampaikan Mas Guru selama ini adalah pengetahuan Semesta yang tanpa batas sebagai referensi kita untuk mengambil berbagai penyadaran-penyadaran dalam setiap proses jatuh bangunnya hidup kita. Dengan penyadaran tersebut, kita akhirnya mempunyai kesadaran. Ya, sekarang saya sadar bahwa yang Mas Guru wedarkan adalah pengetahuan tentang kesadaran murni itu sendiri.

Pengetahuan dan kesadaran adalah sesuatu yang tanpa batas, melampaui ruang dan waktu. Sementara konsep adalah pengetahuan yang dikotakkan oleh ego sehingga hanya bisa berlaku pada ruang dan waktu tertentu, termasuk hanya pada orang tertentu.

Sementara jiwa adalah realitas tanpa batas yang tidak terbatasi oleh ruang dan waktu. Maka dari itu, kita yang sadar sebagai jiwa selayaknya membuka diri kita. Kesadaran jiwa membuat kita mengerti bahwa dinamika setiap jiwa berbeda-beda, tidak bisa diseragamkan dalam ruang dan waktu yang sama, tidak ada satu konsep pun yang bisa diterapkan pada semua jiwa dalam ruang dan waktu yang sama.

Kalau pun ada, itu bukanlah konsep. Tapi, itu adalah kesadaran murni, kesadaran yang tanpa batas, yang bisa ditangkap dalam ruang dan waktu yang sepertinya berbeda sesuai pencapaian kesadaran masing-masing.

Dengan berpegang pada kesadaran murni kita menjadi punya kasih murni dan menyatu dengan semua keberadaan.

Biarlah bangkit semua jiwa dalam kesadaran murninya.

 

Pengalaman pribadi oleh Sukma Prativa
Ditulis pada 11.06.2021

Share:
×

Rahayu!

Klik salah satu tim kami dan sampaikan pesan Anda

× Hi, Kami siap membantu Anda