
Sadar yang dimaksud adalah pada tataran ‘self-awareness’, knowing – mengetahui, menjadi peka (sensing) terhadap bagian dari field of existence, dengan panca indera. Karena awareness inilah yang akan digunakan dalam praktik mindfulness sebagai ‘Deliberate Practice’ dan active skill, untuk memperhatikan bagian dari field of existence sebagai ‘present moment’. Field of existence dimaknai sebagai jagat raya yang tanpa batas, ruang tempat semua keberadaan yang saling berinteraksi, baik fisik maupun non-fisik, mencakup seluruh dimensi.
Semakin terbuka kesadaran (consciousness), maka semakin luas field of existence yang bisa diperhatikan. Apabila menjalankan mindfulness dengan teknik penjernihan diri secara konsisten, maka setiap individu bisa meningkatkan kesadaran (consciousness). Semakin jernih kesadaran, maka akan membuka pintu pemahaman (understanding) yang semakin luas dan mendalam atas semua hal yang ada (eksistensi) di Jagat Raya.
Semakin murni kesadaran, semakin stabil dalam kesadaran yang bersih murni (pure consciousness), maka akan mengerti secara utuh reality of existence.
Pesan seperti kaset rusak yang diberikan kepada teman belajar adalah untuk membiasakan diri membaca materi dan mendengarkan wedaran sambil berlatih meditasi informal. Sebuah habit yang akan memantik untuk berefleksi jujur, tanpa kebanyakan embel-embel aksesoris ingin diakui sebagai murid yang rajin absen dan mencatat. Praktik meditasi informal yang khusuk akan membawa kesadaran penuh penghayatan, perenungan reflektif dan kontemplatif, terhadap apa yang sedang dipelajari.
Membaca materi dan mendengarkan webinar, sebaiknya seperti belajar ilmu pengetahuan yang dianggap penting dan baru. Jangan seperti mendengarkan dongeng sebelum tidur atau seperti menonton panggung humor pengisi jam gabut saja. Mendengarkan wedaran seharusnya diresapi tanpa dianalisis, ditangkap esensinya tanpa dihakimi, dan diperhatikan dengan netral tanpa diremehkan. Yang pasti, ketika merasa sudah mengerti, maka hasrat untuk mencocoklogi dengan koleksi teori bijak pribadi akan meronta, demi mendapatkan pembenaran atas keyakinan yang lebih disukai. Sikap antitesa dari ‘Beginner’s Mind’ dan bukan cerminan kerendahan hati dari seseorang yang ingin belajar.
Ketika memilih sikap sebagai pemula dengan intensi belajar yang tulus, maka momen berefleksi pun menjadi semakin mudah mengalir tanpa banyak carles (cari alesan) dan pencitraan.
Dengan mencatat reaksi spontan yang hadir dalam pikiran akan berguna untuk mengenal bagaimana gerak pikir diri sendiri. Mengenal secepat apa reaksi menganalisis dan menghakimi apa yang dibaca atau didengarkan, mengenal secepat apa merasa bosan dan mengantuk, atau secepat apa ingin mengalihkan fokus kepada hal lain – misalnya mencari distraksi scroll sosial media, dan seterusnya. Mencatat apa saja reaksi spontan selama membaca atau mendengarkan wedaran; apakah membayangkan sesuatu tentang hal-hal yang diwedarkan, apakah melamun, apakah mengantuk, tidak konsen, gelisah, atau tiba-tiba menjadi malas mendengarkan.
Memperhatikan kapan mulai ingin mengalihkan fokus ke hal lain, kapan mempertanyakan, kapan meragukan, kapan menemukan hal-hal yang membingungkan dan di-skip karena malas menindak lanjuti. Memperhatikan kapan menemukan bentrok pemahaman, kapan mulai mencocoklogi dengan koleksi teori yang dimiliki sebelumnya, dan apakah muncul pengertian hasil analisa pribadi yang belum tervalidasi, dan seterusnya.
Refleksi adalah gerak spontan, muncul ketika sedang menghayati apa yang sedang dilakukan, atau ketika membaca dan mendengarkan materi belajar.
Ketika mendengarkan dengan kerendahan hati, ketika bersikap seperti pemula (beginner’s mind), maka zona belajar (learning zone) akan terbuka lebar. Situasi yang paling tepat untuk berefleksi dann mencatat on the spot atas apa reaksi terjujur. Dicatat dengan sederhana sesuka hati, tanpa harus menjadi pujangga dan penyair penuh hiasan dan aksesoris.

Refleksi jujur merupakan dorongan natural untuk menuliskan apa adanya tanpa topeng dan poles-memoles. Bahkan kalau dibaca lagi bisa saja banyak salah dalam menyusun kalimat, SPOK amburadul, dan banyak typo.
Sebuah refleksi akan ditulis karena dianggap penting, bukan karena kewajiban yang memaksa.
Dicatat karena dianggap sebagai penemuan berharga, ‘AHA Moment’, momen penuh insight yang konstruktif, pemahaman yang dianggap baru, dianggap mencerahkan, dianggap sebagai anugerah karena memberi manfaat, dianggap berharga karena membuka wawasan, bahkan dianggap menyembuhkan karena membuat diri menjadi lebih enteng, bebas lepas dari matrix dan ‘mental block’.
Refleksi spontan tersebut bisa berkembang menjadi narasi pemahaman yang lebih lengkap lagi apabila lebih banyak bermeditasi/hening yang menjernihkan dan membuka kesadaran. Setelah terjadi momen perenungan lanjutan yang lebih mendalam atau ketika menemukan AHA Moment selama beraktivitas di keseharian. Semakin banyak bermeditasi, maka momen-momen perenungan akan hadir begitu saja; ketika sedang cuci piring, sedang menyapu, sedang menunggu kendaraan umum, sedang antre, sedang bekerja, dan lainnya.
Kegiatan berefleksi termasuk agenda penting dalam latihan menjadi sadar, yaitu agar sadar dengan ‘Sisi Gelap (shadows/ darkside)’-nya sendiri. Kemampuan berefleksi pun akan meningkatkan kecerdasan emosimu. Kapan muncul, kapan diabaikan, kapan ditepis pakai teori bijak, kapan dianalisis sampai mendapatkan kesimpulan yang memuaskan, kapan disangkal, kapan diredakan pakai meditasi, dan apa dampak dari setiap keputusan sikap yang dipilih. Agar kemudian dapat dilanjutkan dengan proses ‘bersih-bersih’, proses ‘detoks’ dan ‘penyembuhan’ yang akan menjernihkan kesadaran.
Maka, latihlah berefleksi jujur dan tuliskan dalam ‘jurnal belajarmu’, supaya bisa melihat sendiri peta perjalanan pertumbuhan kesadaran dan ‘evolusi jiwamu’. Jangan lupa validasi dengan pihak yang tepat supaya tidak malah semakin tidak sadar akibat hidup dalam gelembung ilusi ciptaan sendiri.
“Pure consciousness is the mother of all existential clarity.” ~ The Art of Conscious Living
Ay Pieta
Pembimbing dan Direktur Persaudaraan Matahari
1 Januari 2026
Reaksi Anda:












