Rumpi Reflektif

Nyasar ke Halaman Tetangga yang Lebih Hijau

10 January 2026 Thomas Theo Roberto No Comments
Nyasar ke Halaman Tetangga

Saya dulu mikir sukses itu ya kelihatan sibuk. Kalau mukanya lelah, berarti produktif. Kalau jarang balas chat, berarti penting. Pokoknya hidup harus “kelihatan”. Meski arahnya muter-muter, yang penting nggak kelihatan nyasar. Yang bikin capek ternyata bukan kerjanya, tapi tuntutan buat “jadi sesuatu”. Harus kelihatan berhasil, harus kelihatan naik level, minimal kelihatan nggak salah hidup.

Padahal kalau jujur, hidup saya hari ini ya… cuma segini. Kayak sinyal HP satu bar, tapi masih bisa kirim WA. Di webinar kemarin dibahas ciri orang sukses: totalitas, konsisten, pantang menyerah, mau belajar. Saya dengernya sambil ngopi dan kepikiran, ini ciri orang sukses atau ciri orang yang lagi sok kuat? Soalnya saya sering konsisten di hal yang salah, pantang menyerah buat ngeluh, mau belajar tapi pilih yang cepat dan instan.

Dari situ saya mikir, emang penting ya ngejar sukses segitunya? Wong katanya juga orang sukses jarang mau belajar spiritual. Yang masuk dunia spiritual malah seringnya yang hidupnya lagi berantakan, yang lagi bangkrut, yang pengen tercerahkan tapi males prosesnya, atau yang udah capek ngejar tapi belum rela ngelepas.

Lah, saya ini masuk golongan yang mana, dong?

Webinar PSYCHOLOGY OF SUCCESS - Menyelami Karakter Orang-orang Hebat


Terus ada fakta lagi yang bikin nyengir pahit: sukses itu nggak ada hubungan langsung sama kebahagiaan. Banyak orang sukses, tapi hidupnya kayak kabel charger murahan. Dari luar kelihatan utuh, tapi dikit-dikit putus. Jadi sukses belum tentu bahagia. Tapi, tetap aja banyak yang ngejar kesuksesan kayak ngejar 
flash sale. Takut ketinggalan, meski belum tentu butuh juga.

Padahal sesukses apa pun orang, pasti ada momen jatuhnya. Entah bangkrut, entah kepleset terus masuk penjara, entah capek sendiri tapi nggak berani berhenti. Dan di momen itu, semua yang selama ini dikejar mendadak kelihatan biasa saja.

Hidup tiap orang ternyata emang nggak pakai ukuran yang sama. Beda Grand Human Design-nya. Mirip beda paket kuota internet. Ada yang unlimited, ada yang FUP.  Soalnya jujur aja, saya masih sering ngelirik rumput tetangga yang kelihatannya lebih hijau, lebih rapi, lebih cepat tumbuh. Padahal belum tentu dia siramnya pakai air bersih. Bisa jadi pakai air selokan. 

Masalahnya, setiap saya ngelirik ke sana, rumput sendiri jadi kelihatan makin pucat karena mata saya kebanyakan keluyuran ke halaman orang lain. Padahal tiap orang punya jatah sendiri-sendiri. Dan, penderitaan sering muncul karena maksain ngejar jatah orang lain.

Jadi mungkin pertanyaannya bukan gimana caranya jadi sukses, tapi saya ini lagi dipercaya ngurus hidup versi apa sekarang. Kalau mau bahagia, ya lakukan yang terbaik di versi itu. Rawat yang ada di depan mata. Disiram, dibersihin, kadang diinjek juga karena kesel. Tetap bertumbuh, tetap belajar, tetap jatuh bangun, tapi sambil nyadarin tujuannya, bukan buat hidup paling kinclong.

Sampai hari ini saya masih sering kelepasan nengok rumput tetangga, masih bandingin, masih iri dikit-dikit. Bedanya sekarang saya lebih cepat nyadar, lalu balik lagi ke halaman sendiri. Karena ternyata yang bikin capek itu kebiasaan saya sendiri yang hobi nyasar ke halaman orang lain dan lupa ngurus punya saya.

Eeh… kok jadi keinget lagu “Rumput Tetangga”.

Goyang dulu, Kakak..!

 

Thomas Theo Roberto
Refleksi Webinar PSYCHOLOGY OF SUCCESS – Menyelami Karakter Orang-orang Hebat
8 Januari 2026

Share:

Reaksi Anda:

Loading spinner