Rumpi Reflektif

Nanam Bibit Masalah Sendiri, Panennya kok Dipertanyakan

10 January 2026 Thomas Theo Roberto No Comments
Nanam Bibit Masalah Sendiri, Panennya kok Dipertanyakan

Semalam saya ikut webinar dan mendadak kayak disentil alus:
ternyata banyak yang saya pahami,
tapi sedikit yang benar-benar saya jalani.

Saya sering merasa sudah paham. Konsep keselamatan ngerti, teori tentang kesadaran apal. Kalau diminta jelaskan, lancar pol. Kalau disuruh menjalani… nah ini… seringnya saya mendadak sibuk. Sibuk mikirin hal-hal yang kalau dipikir juga nggak penting-penting amat.

Contoh paling jujur, ya, pagi hari. Baru aja bangun, niatnya mau hening sebentar. Tapi, tangan refleks nyari HP. Katanya cuma mau lihat jam. Lima menit kemudian, kepala sudah kebanjiran notifikasi, dan perasaan orang lain. Keheningan saya sering kalah cepat sama kebiasaan lama. Ternyata selain pikiran saya yang ikut kebawa, suasana di dalam juga ikut berubah. Rame, tegang, dan nggak karuan.

Dari sudut pandang logika sains spiritual, jalan keselamatan itu hasil pilihan saya sendiri. Apa yang saya pikirkan, ucapkan, dan lakukan, itulah yang membentuk rajutan karma saya. Dan karma nggak bisa ditipu atau diwakilin. Mau sadar atau nggak, panennya tetap datang. 

Percaya jalan keselamatan itu nyata juga nggak otomatis bikin selamat. Kayak percaya olahraga itu sehat, tapi tiap hari rebahan sambil ngemil, lalu sok bingung nanya kenapa badan makin melar.

Webinar JALAN KESELAMATAN – Logika Sains Spiritual


Saya jadi ngeh tentang medan energi saya sendiri. Setiap pikiran, emosi, dan reaksi kecil itu kayak setelan frekuensi. Kalau tiap hari isinya ngedumel, nyinyir halus, dan drama kecil yang dipelihara, ya jangan heran kalau hidup rasanya berat terus. Karena kan hukum Kosmik itu jalan apa adanya. Responsnya hanya mengikuti kualitas yang saya jaga tiap hari.

Masalahnya, saya sering milih yang salah walaupun tahu itu salah. Free will akhirnya lebih sering dipakai buat nunda, “Besok aja refleksinya,” “Hening nanti,” “Drama dikit gapapa lah.” 

Pas motor mogok dikit, mulut pengen ngedumel. Pas udah bolak-balik ngolah kohe (kotoran hewan), belum juga jadi komposnya, pikiran langsung nyalahin keadaan. Bahkan, pas lagi antre, badan diem, tapi komentar di kepala sudah maraton duluan. Sekali dua kali emang terasa aman. Tapi, lama-lama kepekaan menurun. Nurani kayak disetel mode silent. Jalannya sih tetap ada, saya aja yang sering belok dikit, lalu malah keterusan.

Jadi, jalan keselamatan itu sebenarnya nggak ribet. Tapi, ya… dikit rewellah. Dia konsisten minta dipilih tiap hari pada hal-hal receh yang sering saya anggap sepele. Dan, saya? Masih sering nunda. Sudah tahu salah, tapi tetap dijalani sambil cari pembenaran. Ego pun menyamar rapi jadi kalimat, “Ya, manusiawilah.”

Saya ikut aja, sambil pura-pura nggak sadar kalau barusan lagi nanam bibit masalah buat dipanen sendiri. Lalu, sok heran pas ngerasa hidup mulai ribet. Padahal yang nanam juga saya, ‘kan?

 

Thomas Theo Roberto
Refleksi Webinar JALAN KESELAMATAN – Logika Sains Spiritual
21 Desember 2025

Share:

Reaksi Anda:

Loading spinner