
Saya memang mengajarkan sikap setia dan patuh total pada titah Gusti. Inilah jalan keselamatan yang sesungguhnya. Tapi, mempraktikkan prinsip ini sangat tidak mudah. Mengapa? Inilah alasan-alasannya.
Pertama, tak gampang untuk mengerti apa itu titah Gusti. Ini bukanlah ide yang terlintas di pikiran. Bukan juga hasrat dengan emosi yang kuat yang bisa dirasakan di dada. Titah Gusti adalah sabda yang muncul dari relung hati yang kita bisa sederhanakan sebagai suara hati paling dalam. Ia muncul dari keberadaan realitas Ketuhanan yang menjadi esensi diri, dinamakan sebagai Diri Sejati, Dewa Ruci, Guru Sejati, Sukma Sejati. Menangkap suara ini harus dalam keadaan hening mendalam dimana Rasa Sejati terdayagunakan. Apa pula Rasa Sejati? Ia adalah perangkat kecerdasan nonfisikal, yang ada di relung hati, terhubung kepada otak melalui nafas.
Bagaimana kita tahu jika ada suara di dalam diri itu adalah Titah Gusti, bukan sekadar ekspresi hati nurani yang mengkristalisasi segala nilai luhur yang diyakini? Bagaimana membedakannya dengan suara entitas metafisik yang bisa saja menyusup masuk ke sanubari manusia? Nah, problemnya tidak ada produk teknologi yang bisa jadi alat tes dan validasi. Lagi-lagi ini perkara halus nan rumit: titah Gusti itu vibrasi frekuensinya beda dengan hal lain yang disebutkan itu, tapi yang bisa membedakannya hanya Rasa Sejati, dan tangkapan Rasa Sejati bisa dimengerti otak hanya jika manusia sedang dalam keadaan hening mendalam dan jernih.
Beberapa pihak sering sembrono, menganggap yang ditangkap oleh mata ketiga sebagai tangkapan Rasa Sejati. Suara demit pun bisa ditangkap sebagai suara Gusti. Ini karena mereka sebenarnya tak mengerti keadaan hening itu seperti apa, dan tidak juga peduli tentang kemurnian/keterbebasan dari sisi gelap. Yang seperti ini juga pasti tak bisa bedakan hasrat ego dan hasrat jiwa.
Jadi, silakan digarisbawahi, menangkap titah Gusti tidak gampang, karena sebenarnya banyak noise/keributan yang berkecamuk di kepala dan dada manusia. Sekali lagi hanya yang bisa hening mendalam, yang segala gejolak diri telah reda, yang bisa menangkap titah Gusti. Dan, ini memang butuh latihan yang panjang untuk menjadi ahlinya.
Namun saya juga mencermati, ada beberapa orang punya bakat bawaan untuk menangkap titah Gusti ini. Ini berkaitan dengan rajutan karma dan jejak pembelajaran dari kehidupan di masa lalu. Ada yang sejak kecil terbilang intuitif, sering menangkap suara dari relung hatinya, meski tak selalu mematuhinya.
Sebenarnya, yang lebih mudah ditangkap/dimengerti dan ini punya fungsi mirip dengan titah Gusti adalah ‘sinyal badan’ yang sering disebut juga sebagai “guts“. Misal, saat kita mau jalan ke satu tempat, di situ ada bahaya, tiba-tiba terasa malas, berat. Ini terjadi karena pada setiap sel tubuh ada kecerdasan kosmiknya. Gampangannya, Tuhan yang Maha Cerdas meliputi semua sel penyusun tubuh dan bisa memberi sinyal lewat dinamika sel itu. Tapi, untuk bisa menangkap guts pun butuh awareness, kita waspada dan peka kalau terasa ada yang beda pada tubuh. Yang terlalu riuh pikirannya pasti abai, bahkan baal terhadap sinyal tubuh.
Makanya saya sarankan, yang belum bisa hening mendalam, pertajam saja kepekaan menangkap sinyal tubuh sembari melatih akal sehat agar setiap langkah bisa tertimbang cermat, tidak ngawur, dan membawa pada keselamatan. Akal sehat ini kan bicara tentang risiko dan manfaat, tentang dampak dan konsekuensi, dari apa pun yang merugikan. Jangan lakukan yang membahayakan, jangan lakukan yang bisa menghancurkan hidup. Jangan lakukan yang bertolak belakang dengan nilai luhur yang diyakini.
Nah, selanjutnya saya bahas alasan lain kenapa manut titah Gusti itu tidak mudah. Jadi, titah Gusti itu seringkali tidak sesuai dengan selera pribadi, tak sama dengan harapan manusiawi, kadang bertentangan dengan akal sehat – dan pasti bertentangan akal yang nggak sehat. Ada kalanya titah Gusti itu tak sesuai dengan norma yang berlaku umum, berbeda dengan standar kebenaran moral yang diyakini banyak manusia. Tak jarang titah Gusti itu menempatkan kita pada keadaan penuh risiko, termasuk risiko kehilangan nama baik, bahkan nyawa. Dan jelas, kadang titah Gusti bikin dompet/rekening jadi kosong.
Emang gampang mengikuti suara lembut, tapi tegas yang tak sesuai pertimbangan akal budi dan kehendak pribadi? Emang gampang manut sama titah Gusti yang kita tahu persis itu merugikan diri kita?
Nah, saya sudah lulus 100% untuk perkara manut sama titah Gusti. Sejak saya bisa mendengar titah Gusti dari relung hati, saya patuh total. Saya kasih ilustrasi: sebelum 2019, jika dalam sehari ada 10 titah Gusti, 5 saya dengar, 5 saya jalankan, 5 lagi tidak kedengaran karena kadang pikiran terlalu sibuk. Tahun 2019 ke sini, berapa kali pun titah Gusti itu muncul, semuanya saya dengar dan semuanya saya jalankan.
Dan, ini yang paling berat: saya tahu risikonya, bahayanya. Tapi kesetiaan saya penuh, maka saya berkata, “Gusti, saya terima segala risiko atau konsekuensi, dari pilihan saya untuk setia total padaMu.”
Nyatanya, hingga saya tuntas menulis artikel ini, saya masih selamat lahir batin.
Setyo Hajar Dewantoro
Pendiri dan Pengasuh Sekolah Kehidupan PERSAUDARAAN MATAHARI
31 Januari 2026
Reaksi Anda:












