Mozaik Belajar

Mengontrol Pikiran

3 February 2026 Ay Pieta No Comments

Mengontrol pikiran dalam bahasa ‘Seni Hidup Berkesadaran SHD didefinisikan sebagai aksi yang penuh intensi untuk membawa perhatian kepada nafas natural, bukan dalam rangka membentuk distraksi dengan imajinasi, afirmasi, dan sugesti.

Mengontrol pikiran dalam konteks mengendalikan dan mengelola arah fokus dengan sadar agar perhatian utama berada pada nafas natural. Dengan intensional dan rileks, tanpa ambisi, mengarahkan perhatian kepada nafas natural, maka lokus atensi diarahkan kepada nafas yang natural sehingga tercipta apa yang disebut dengan ‘sadar penuh’. 

Sadar penuh terhadap nafas natural yang dimaksud adalah nafasnya tidak perlu disengaja tarik atau embus. 

Kalau sengaja ditarik atau diembuskan, maka yang terjadi bukanlah merasakan dan mengamati nafas yang bergerak sendiri, tapi malah jadi memikirkan gerak nafas. Memang batas yang sangat tipis antara memikirkan nafas versus hanya merasakan, mengamati, dan menikmati, menjadi observer yang betul-betul menikmati tanpa intervensi apapun. Maka dari itu keterampilan ini perlu dilatih dengan ketekunan dan konsistensi yang penuh intensi dan kesadaran. Tidak bisa hanya dilakukan seadanya sebagai syarat atau tindakan mode robotik.

Banyak teknik meditasi yang memberi instruksi yang hampir sama, yaitu diminta mengamati sebagai observer yang netral, tidak menghakimi dan tidak hanyut dalam dinamika pikiran maupun emosi. Perintahnya yang sangat mirip ini kemudian dipraktekkan tanpa standar yang presisi dan akhirnya terjadilah autopilot imajinasi, afirmasi, dan sugesti. Karena inilah upaya maksimal yang bisa dimengerti untuk ‘mengontrol’ pikirannya agar tidak keluyuran dengan liar. Sehingga upaya yang banyak diminati, berakhir dengan mind programming untuk menciptakan situasi ‘pengamatan’ yang diinginkan, dan mengupayakan sebuah tindakan untuk ‘menghilangkan’ dinamika pikiran dan emosi yang muncul.

Mengapa demikian? 

Inilah bagian paling sulit, yaitu menemukan benang merah yang menjadi landasan bagi teknik meditasi/hening yang tepat. Yaitu sebuah tolok ukur untuk memastikan apakah benar-benar telah terjadi momen mengamati yang netral tanpa intervensi atau hanya berupa fungsi pikiran yang imajinatif dan sugestif saja. 

Karena tidak ada benang merah evaluasi yang memadai, maka setiap praktisi akhirnya melakukan sesuai dengan kemampuan kognitifnya masing-masing. Menciptakan situasi terdamai dalam diri sesuai dengan preferensi dan pengertiannya sendiri-sendiri. Tidak ada ‘wasit’ yang akan memastikan apakah teknik meditasi/hening telah berjalan dengan tepat sehingga berdampak lebih dalam dari sekedar relaksasi, yaitu pembersihan, penyembuhan, dan detoks sisi gelap (shadows/darkside).

Manusia selalu perlu objek yang perlu diamati, dirasakan, dan dinikmati sebagai lokus ‘kesadaran’. Tidak bisa hanya berupa sesuatu yang dianggap sebagai ‘kosong’, karena pasti berakhir dengan bengong dan melamun.

Maka dalam Seni Hidup Berkesadaran SHD yang diajarkan dalam Sekolah Kehidupan Persaudaraan Matahari, objek paling mutlak untuk praktik meditasi/hening yang menjernihkan dan membuka kesadaran adalah nafas natural. 

Nafas yang mengalir apa adanya secara natural, bukan hasil imajinasi, bukan nafas yang diatur, sebagai objek bagi pikiran (mind) dan jangkar kesadaran (consciousness) agar terkoneksi dengan energi kasih murni di relung dada. Apabila koneksi ini bisa dijaga kestabilannya sepanjang hari, maka energi inilah yang akan memperluas awareness, memperluas pikiran (expanding the mind), memperluas ruang kesadaran (expanding consciousness), serta memperluas medan energi (expanding energy field), dan seterusnya.

Perluasan terjadi sebagai hasil dari proses pembersihan, penjernihan, atau purifikasi sisi gelap, sebagai jejak dan rekaman data yang destruktif, tadinya menutup lapisan kesadaran. Pola berpikir, ‘ruang kesadaran’ dan medan energi yang tadinya tertutup oleh berbagai ‘kotoran’ yang disebut dengan sisi gelap (darkside/shadows) menjadi semakin bersih, sehingga meluas.

Banyak sekali teori dan teknik yang sangat dekat dengan proses ini, namun selalu ‘kehilangan’ komponen pentingnya, yaitu natural, non-egoistik, pasrah, dan ketulusan. Sehingga tidak memberikan dampak kesetimbangan dan transformasi yang holistik, awet, permanen.

​​”Humility is a tool to cultivate receptiveness, that allows individuals to achieve deeper self-understanding” ~ The Art of Conscious Living

 

Ay Pieta
Pembimbing dan Direktur Persaudaraan Matahari
1 Februari 2026

Share:

Reaksi Anda:

Loading spinner