Rumpi Reflektif

Ruwatan: Mandi Kembang Tujuh Rupa VS Laku Hening Harian

6 February 2026 Thomas Theo Roberto No Comments

Saya pernah lihat orang habis diruwat. Rambut masih basah penuh air kembang, keluarganya bilang, “Biar langgeng dan nggak sial lagi.” 

Saya cuma manggut-manggut. Dalam hati sempat mikir, enak juga ya, kalau hidup bisa diberesin sekali siram, kayak helm kehujanan lalu dilap, kinclong lagi. Seolah-olah setelah itu nasib langsung baik, jalan hidup lurus tanpa kerikil. Lah, saya? Pas mandi aja kadang masih kesel cuma karena mau sikat gigi, odolnya kepencet kebanyakan.

Dalam tradisi Jawa, ruwatan itu esensinya ok juga: bersih diri, buang sial, lepas dari kuasa gelap, jaga keseimbangan, terutama untuk anak supaya hidupnya selamat. Ada doa, ada simbol, ada harapan besar yang ditaruh di situ. Saya sih gak berani bilang itu keliru. Tapi, saya juga nggak bisa menutup mata pada satu hal: setelah semua ritual selesai, orangnya tetap pulang dengan kepala yang sama, kebiasaan yang sama, cara bereaksi yang sama. Ya, termasuk kebiasaan ngomel pelan ke kipas angin rusak yang bunyinya “krek… krek…”

Pernah juga saya mikir “buang sial” itu artinya membuang sesuatu yang nempel dari luar diri. Sekarang mikirnya yang bikin sial itu bukan dari luar, tapi di dalam. Di pikiran yang hobi banget bikin tafsir lebay dari kejadian receh. Kepleset jatuh dibilang pertanda apes. Orang jutek dikit dibilang ada masalah. Dompet tipis dikit dibilang hidup lagi nggak berpihak. Padahal yang bikin gelap bukan peristiwanya, tapi film yang diputar di kepala. Dan sutradaranya ya… saya sendiri. 

“Hadehh… lu ini hobi banget bikin sinetron 200 episode dari kejadian 2 menit..!” saya kadang ngomong begitu ke diri sendiri.

Sejak belajar memaknai hidup terutama dari pemahaman di Persaudaraan Matahari, saya mulai melihat ruwatan dengan cara yang beda. Ruwatan adalah proses memurnikan jiwa. Ruwatan itu pengingat. Bahwa yang perlu diruwat itu cara saya melihat, menilai, dan menanggapi hidup. Karena setelah air kembang kering, yang tersisa akan tetap kebiasaan lama, kalau saya nggak mau mengubahnya. Airnya doang mengalir ke selokan, tapi dramanya masih ngumpet di kepala.

Dan, di titik ini saya jadi paham makna yang dulu saya lewatkan: ruwatan yang benar itu sebenarnya hening. Hening yang sungguh-sungguh. Bukan hening model foto profil, tapi hening yang bikin saya berani duduk melihat isi kepala sendiri tanpa kabur. Hening yang bikin saya tahu kalau selama ini emosi destruktif, ego, keserakahan, bahkan kekejaman kecil masih sering saya anggap wajar. Hening yang pelan-pelan mengubah karakter, bukan cuma suasana hati. Hening yang uborampenya kerendahan hati, ketekunan, ketulusan, dan kejujuran.

Hening itu ternyata ruwatan yang paling masuk akal. Karena di situ yang dibersihkan bukan badan, bukan nasib, tapi cara saya bereaksi. Di situ luka batin pelan-pelan kebuka, bukan ditutup bunga indah. Di situ kuasa gelap yang sering saya tuduhkan, ternyata sumbernya dari dalam sendiri. Dan itu cuma bisa terjadi kalau saya mau jujur diam, gak sibuk cari kambing hitam… embekkk.. 

Sekarang makna ruwatan buat saya jadi simpel. Kepleset karena licin, sendal ketuker di teras, anak ribut, kerjaan numpuk, HP lemot, badan capek. Itu semua bukan tanda hidup lagi sial. Itu justru kesempatan ruwatan versi harian. Tanpa wayang, tanpa mantra, tanpa sesaji. Cukup dengan satu latihan kecil: nggak ikut berisik di dalam kepala sendiri. “Sudah, tenang… ini kan cuma kepleset, bukan takdir lu.”

Ruwatan itu tujuannya juga menjaga keseimbangan. Dan, sekarang saya ngeh, keseimbangan itu bukan dicapai lewat ritual, tapi lewat sikap saat hidup lagi gak seimbang. Saya ini kan punya freewill. Mau bersih atau tetap keruh, itu bukan ditentukan oleh air kembang, air degan, atau air laut. Mustahil! Kelicikan, kekejaman, dan keserakahan bisa luruh cuma karena diguyur air. 

Yang bisa meruwat hidup saya ya laku saya sendiri yang mau berubah lebih baik, dibarengi hening yang benar.

Saya jadi membayangkan, kalau setiap kali pikiran mulai ribut saya siram pakai air kembang beneran, mungkin rumah sudah banjir duluan sebelum sayanya jernih. Berarti memang yang perlu dikeringkan bukannya lantai, tapi isi kepala sendiri yang bikin becek. Sudahkah saya melakukan hening itu dengan sungguh-sungguh? Atau cuma berharap hidup berubah tanpa saya mau berubah?

Kuasa Ilahi itu bekerja tanpa batas. Tapi yang menentukan saya mau ikut dibersihkan atau tetap kotor… ya pilihan saya sendiri.

Pada akhirnya sih…

Percuma mandi kembang tujuh rupa, kalau habis itu masih mandi emosi sembilan rupa…

Hi.. hihi..kapokmu kapan?

 

Thomas Theo Roberto
Refleksi Webinar RUWATAN, BENARKAH MEMURNIKAN JIWA? Menelisik Tradisi Jawa dengan Jujur dan Adil
5 Februari 2026

Share:

Reaksi Anda:

Loading spinner