Mozaik Belajar

Divine Masculine

25 February 2026 Ay Pieta No Comments
Divine Masculine

Divine Masculine
14 Maret 1947 – 21 Februari 2026

Kembali berjatah menemani akhir perjalanan jiwa walaupun tidak secara fisik berada di sampingnya. Merasakan kesedihan sangat kuat dan mendalam yang menjadi pemberat dan menahan. If you wanna leave the earth, tinggalkan dengan hati yang bersih dan bersyukur.

Berdialog dengan jiwanya, saya hanya bisa terus meditatif dan memberkati. Berjatah menjadi wahana penyelarasan dan saluran ‘pembuangan’ pemberat yang menahan. Dan, tepat setelah terasa ringan saya pun membaca pesan bahwa jiwanya telah bergerak ke dimensi yang berbeda. Dalam perjalanan menuju rumah sakit, saya belum tahu bahwa ia sempat mengalami code blue hingga tiga kali, baru setelah ia sampai di IGD, informasi itu saya dengar. Memang terjadi beberapa kali gelombang besar yang dianalogikan sebagai proses ‘pembuangan’.

Time flies, body dies, consciousness remains. Sudah terasa ringan dan tampak senyuman dengan deretan giginya yang tidak lengkap lagi.

Benar kata Guru SHD, kebenaran sejati hadir di ambang kematian, di saat ego tidak berkutik. 

Sudah berkali-kali saya berjatah menyaksikan dan menjadi saluran ‘pembuangan’ sesuai dosis rajutan karma masing-masing. Beberapa minggu belakangan ini saya merasa aneh karena banyak insight seputar kematian yang hadir, seperti mau menguji apakah saya benar-benar telah terbebas dari rasa takut.

Seluruh proses saya ikuti dengan intentional presence, tidak ada rasa takut melihat tubuh yang kaku membiru, yang kemudian dimandikan dan dibungkus dengan kain dan tikar. Begitu pula ketika diletakkan di dalam lubang tanah yang dalam dan becek. Merasa sangat asing dengan seluruh dinamika yang hadir, menjalankan pengalaman hidup belum pernah dikenal di kehidupan ini. Tanah yang masih terus nempel di baju dan sepatu, sampai pulang pun tidak lagi membuat saya takut seperti biasanya.

Di hari itu rasa sedih hadir didominasi oleh pemandangan betapa terpukulnya anak paling kecil yang sangat dekat dengan beliau. Karena beliaulah pengganti sosok ayah yang ideal setelah saya bercerai.
 Setelah hiruk pikuk berakhir, barulah hadir berbagai memori recehan nan indah bersamanya. Terbuka dengan sendirinya dengan amat terang benderang, seperti film berisikan dokumenter keindahan father-daughter bonding yang telah saya lupakan, tertutup oleh perjalanan hidup yang tidak sempurna.

Divine Masculine - The Father


Oh, gini toh rasanya kehilangan orang tua. Rasa yang sangat asing – belum pernah dirasakan sebelumnya. Terasa seperti ada sandaran psikologis yang hilang walaupun tidak pernah benar-benar bersandar. Seperti kehilangan altar persembahan bagi prestasi yang membanggakan. Ada rasa 
insecurity seolah baru pertama kali dilepas untuk berjalan sendiri tanpa ada benteng yang melindungi.

Oh, ini toh rasa kehilangan mendalam yang bisa membuat manusia sakit dan mati. Oh, ini toh yang papa rasakan ketika nenek pindah dimensi, yang Guru SHD rasakan ketika ibu pindah dimensi. Secara natural, sebagai seorang anak akan selalu ingin memperlihatkan prestasi yang membanggakan, selalu ada harapan yang belum bisa diberikan, selalu merasa ada obyek bahagia yang belum bisa dilengkapi, dan seterusnya.

Let alone embrace the feelings and dynamics, and how to keep a balanced consciousness state. Saya berniat untuk benar-benar mengalami dan menyaksikan dinamika di dalam diri tanpa mengalihkan dan mencari distraksi. Bagaimana pusaran memori bisa dengan mudahnya menguasai diri untuk terus bersedih. Bagaimana jangkar keheningan dapat memberikan kestabilan walaupun seperti Juggler Sirkus yang mengayuh sepeda roda satu di atas tali tambang. 

Mencoba untuk terus berkarya namun tidak mengalihkan seluruh dinamika yang hadir. Tetap berjalan bersama memori yang hadir namun tetap menjaga kesadaran agar tidak lagi mencipta kesedihan. Sampai kemudian seperti membuka sebuah lapisan kesadaran yang lebih baru.

Setelah beberapa saat dalam roller coaster memori tiada henti, kemudian saya merasa kehadiran yang tidak pernah lepas, tetapi dalam bentuk yang berbeda. Lebih besar dan kuat, seperti energi maskulin raksasa yang melingkupi dan menyatu. Menyadari inilah evolusi terbaik yang bisa dicapai oleh sebuah jiwa. Dan inilah jawaban dari pertanyaan dalam hati, mengapa beliau tidak memberikan sinyal selamat tinggal, seperti yang dilakukan kepada yang lainnya. Oh ternyata karena memang beliau tidak pernah pergi, namun tetap hadir dalam bentuk yang berbeda. Bentuk yang lebih kuat karena tidak lagi dibatasi oleh tubuh fisik.

Baru kali ini saya menyaksikan proses evolusi jiwa yang menyatu dengan Divine Masculine, setelah dua kali menyaksikan evolusi jiwa yang menyatu dengan Divine Feminine. Memahami lebih dalam atas bekerjanya Hukum Semesta dengan berbagai karakter energinya, dan bagaimana jiwa mengalami berbagai human experience yang kompleks.

Sekarang, tidak terasa lagi ada yang hilang. Malah terasa makin menyatu dalam bentuk yang lebih indah dan powerful. Rasanya seperti Duet Marie Celestine and The Father, beliau memberikan keseimbangan melalui nada bass super rendah dalam lagu Lumiere Clair Obscur, Expedition 33.

Thank you for always keeping up with us, Dad.

 

Ay Pieta
Direktur dan Pamomong Persaudaraan Matahari
25 Februari 2026

Share:

Reaksi Anda:

Loading spinner