Pijar Kesadaran

KENYATAAN DIRI MANUSIA

9 March 2026 Setyo Hajar Dewantoro No Comments
Kesadaran Manusia

Saya tuliskan kembali pengetahuan tentang diri manusia. Tulisan ini akan berguna bagi siapa pun yang mau belajar mengenal diri. Ia adalah acuan sebelum Anda menyaksikan sendiri kenyataan diri yang seutuhnya.

Tentu ada yang berpendapat manusia itu semacam mesin biologis. Jika organ-organ vital, seperti jantung, otak, atau paru-paru rusak, maka kematian akan datang dan selesailah cerita kehidupannya. Ini kita sebut saja cara pandang positivistik, atau materialistik, atau rasional-empirik. Sementara saya mengikuti tradisi spiritual kuno yang mengakui keberadaan realitas nonempirik/nonmaterial. Dengan otak plus Rasa Sejati (Divine Sense) memang bisa diketahui aspek material maupun nonmaterial dari manusia.

Manusia, sesuai penyaksian/penyadaran saya dalam keheningan, adalah kesatuan dari keberadaan material dan nonmaterial. Dari luar ke dalam, demikianlah lapisan-lapisan keberadaan tubuh manusia.

Lapisan terluar adalah tubuh fisik, representasi dari dunia atomik. Tubuh fisik manusia tersusun dari milyaran sel yang membentuk organ-organ dan bagian tubuh: tulang, otot, darah, daging, kulit, rambut. Dalam sudut pandang lain tubuh fisik manusia bisa dilihat sebagai kumpulan molekul-molekul yang tersusun dari atom-atom, dan setiap atom tersusun dari subatomic particles. Susunan tubuh manusia mengikuti rumus sacred geometry; dinamika gerak dan kehidupan dari tubuh manusia berjalan dengan sangat teratur – kesemuanya mengindikasikan ada kecerdasan tertinggi yang bekerja pada tubuh fisik manusia. Dalam bahasa spiritual tegas bisa dinyatakan, Tuhan sungguh-sungguh bekerja pada tubuh manusia dengan sistem yang sangat canggih.

Tubuh manusia dihidupi oleh energi yang muncul dari udara yang dihirup, sinar matahari yang menerpa tubuh, serta makanan dan minuman yang masuk ke tubuh manusia. Dalam bahasa biologis, energi ini dibentuk dari proses metabolisme yang menghasilkan ATP (Adenosine Triphosphate). Tapi dalam bahasa sains, energi yang menghidupi manusia, disebut juga sebagai bioenergy atau chi atau prana, dinyatakan bersumber dari 4 elemen Kosmik: api, air, tanah, udara. Sebenarnya kita juga bisa pahami energi hidup ini seperti listrik yang membuat segala mesin bisa hidup – maka bisa dinamakan juga sebagai biolistrik. Dalam bahasa keseharian inilah yang sebenarnya dinamakan sebagai NYAWA. Jadi, orang kehilangan nyawa berarti dia tak ada lagi biolistrik/bioenergy/chi/prana yang mengalir di dalam tubuhnya, dan mengikat semua sel/atom sebagai satu kesatuan. Jika sudah tak ada nyawanya, tubuh manusia mulai terurai dalam mekanisme pembusukan. Kehilangan nyawa ini terjadi akibat dua hal, yakni manusia diputus hubungannya dari sumber-sumber energi kehidupan, atau dirusak/rusak sendiri organ vital dari tubuhnya.

Nah, nyawa berbeda dengan jiwa. Jiwa ini keberadaan atau entity yang sudah ada sebelum tubuh ada (alias sebelum ada zigot dan terjadi kelahiran), dan akan tetap ada saat tubuh mengalami kematian. Jiwa ini adalah pengejawantahan dari Sang Sumber yang memiliki identitas diri, sadar akan keberadaan diri yang berbeda dari diri yang lain, yang berada dalam koridor evolusi, punya free will, punya freedom of choice, dan menanggung konsekuensi dari pilihan tindakannya. Jiwa, baik saat punya tubuh fisik maupun tak punya tubuh fisik, menuai buah karma alias ngunduh wohing pakarti.

Jiwa, sebenarnya juga dibungkus tubuh halus sehingga punya bentuk, tapi bentuk holografis yang hanya bisa disaksikan dengan pendekatan nonempirik. Makanya manusia yang sudah meninggal dunia/belum lahir lagi ke dunia, bisa diidentifikasi. Tubuh halus ini keadaannya berbeda-beda tergantung tingkat kemurnian setiap jiwa.

Tubuh halus juga berlapis-lapis, merepresentasikan frekuensi vibrasi energi yang berbeda-beda. Secara sederhana sering diungkapkan berbagai lapisan tubuh halus manusia: tubuh astral, tubuh eterik, tubuh cahaya, dan tubuh spirit. Mereka yang berjiwa murni berarti persepsi, emosi, karma dan energinya murni. Itu termanifestasikan dalam seluruh lapisan tubuh halus yang jernih. 

Dalam kehidupan di Bumi, tubuh fisik adalah kendaraan bagi sang jiwa (yang juga punya tubuh halus). Pengikat jiwa dan tubuh halus dengan tubuh kasar adalah nyawa/chi/prana. Plus ada sebuah tali energi, sering disebut silver cord yang terputus saat manusia meninggal dunia. Mereka yang mengalami NDE (Near Death Experience) bisa seperti mati, atau koma, tapi silver cord-nya belum putus.

Pada satu tubuh, bisa juga ada jiwa lain yang mendampingi jiwa utama (core soul), seperti sistem operasi tambahan pada sebuah komputer. Jiwa pada diri manusia yang diidentifikasi punya kesadaran lebih tinggi ketimbang si manusianya sendiri (yang punya kesadaran ragawi dengan otaknya, lalu membentuk karakter sesuai pilihan perilakunya) – sering dinamakan sebagai Higher Self. Dalam khazanah Jawa, Higher Self ini adalah leluhur yang nitis atau mendampingi seorang manusia.

Setiap jiwa punya esensi. Esensi itu adalah keberadaan Ilahi (manifestasi perdana/paling murni dari Keberadaan Tuhan). Ia bisa diidentifikasi sebagai sumber energi kasih murni di dalam diri, sekaligus sumber petunjuk/tuntunan/sabda yang membimbing manusia menuju keselamatan. Keberadaan Ilahi ini bisa disaksikan sebagai sosok holografis yang dalam tradisi spiritual dinamakan sebagai Diri Sejati/Highest Self/Dewa Ruci/Atman/Guru Sejati/Roh Kudus. Takhta keberadaanNya ada di ujung tarikan nafas yang natural, disebut relung hati, susuhing angin, telengih manah.

Puncak keberadaan yang menjadi esensi terdalam dari manusia – juga bisa dipahami sebagai intinya inti dari setiap atom di Jagat Raya – adalah kekosongan absolut. Kekosongan absolut juga bisa dipahami sebagai keberadaan tanpa batas yang meliputi keseluruhan Jagat Raya. Inilah sumber dari segala yang ada, yang bersamaNya ada segala kategori energi dan kecerdasan yang mengadakan, menumbuhkan, dan mengatur Jagat Raya dengan segala keberadaan di dalamnya. Inilah sejatinya Tuhan, Sang Hyang Suwung, Sang Hyang Jagad Nata. Ia adalah keberadaan yang selalu meliputi dan menjadi esensi setiap manusia. Manusia tak pernah terpisahkan dariNya, selama masih hidup di Bumi maupun setelah mati, ketika manusia mengalami surga maupun neraka.

Jumbuh Kawula Gusti adalah keadaan saat manusia selalu sadar akan keberadaanNya, titahNya, dan patuh total padaNya – sedikit pun tidak menjadi budak ego, sedikit pun tiada pernah menentang titahNya, bahkan ketika itu terkesan tidak masuk akal dan berbeda dengan norma yang berlaku.

 

Setyo Hajar Dewantoro
Pendiri dan Pengasuh Persaudaraan Matahari
4 Maret 2026

Share:

Reaksi Anda:

Loading spinner