Mozaik Belajar

Meditasi, Kesehatan, dan Akar Penyembuhan

4 February 2026 Agnes Puteri No Comments

Dulu, saat saya bekerja di rumah sakit dan belum benar-benar mendalami meditasi PM, saya memiliki satu konsep kuat di kepala: kalau kita yakin sembuh dan punya semangat untuk terus berjuang, pasti akan sembuh secara fisik, atau setidaknya menemukan jalan terbaik.

Konsep itu terasa masuk akal. Dan memang, setelah belajar diSekolah Kehidupan Persaudaraan Matahari (SKPM), saya menyadari bahwa yang saya pahami dulu hanyalah penyembuhan di permukaan. Di SKPM, saya justru diajarkan bahwa tujuan penyembuhan bukan hanya fisik, melainkan menyentuh akarnya.

Saya belajar bahwa sembuh secara fisik bukan jaminan pikiran menjadi sehat. Justru sebaliknya, sering kali pikiranlah yang perlu disembuhkan terlebih dahulu, direparasi dari dalam. Konsep “yakin sembuh, maka pasti sembuh” yang dulu saya pegang ternyata berangkat dari hasrat egoistik: ingin cepat sembuh, tanpa mau memahami apa akar penyebab sakit itu sendiri.

Di SKPM, saya diajarkan untuk menyembuhkan dari akar, untuk mempertanyakan: mengapa saya bisa sampai sakit? Dan jawabannya sering kali tidak nyaman, karena bermula dari sisi gelap dalam diri. Meditasi ala Persaudaraan Mataharilah yang mampu menjangkau wilayah ini dan membereskannya.

Proses ini menuntut kerendahan hati yang luar biasa dan keberanian untuk meluruhkan hasrat egoistik. Tidak cukup hanya duduk diam, memejamkan mata, memusatkan pikiran, lalu menganggap semua beres. Jika pun ada yang terlihat “sembuh” secara instan, misalnya fenomena tertentu seperti Titik Puspa yang kerap dikaitkan dengan meditasi, hasilnya sering kali hanya bersifat sementara. Fisiknya tampak pulih, tetapi akarnya belum benar-benar dibereskan.


Saya pernah punya pengalaman kerja di rumah sakit. Ketika saya mengingat kembali metode dan konsep 
kesehatan yang saya jumpai dulu, banyak pasien yang dimotivasi dengan afirmasi “pasti sembuh” akhirnya memiliki semangat hidup dan secara medis dinyatakan sembuh.

Biasanya perawat dan dokter memberikan dukungan psikis melalui obrolan dan anjuran berdoa agar pasien tetap berpikir positif. Pesannya seragam: rutin berobat, rajin kontrol, dan jangan sampai putus mengonsumsi obat. Tanpa disadari, sistem ini juga membangun ketergantungan. Dampaknya sering kali hanya sesaat, seperti bom waktu, masalahnya masih tersimpan di dalam.

Beberapa bulan kemudian, tidak sedikit dari mereka yang kembali masuk rumah sakit dengan penyakit yang sama, bahkan jadi lebih parah. Sebagian akhirnya meninggal dunia. Ironisnya, saya sendiri justru makin lama makin tidak sehat. Saya pernah mengalami gangguan irama jantung atau Ventricular Extra Systole (VES). Dan ternyata, hampir semua rekan kerja saya mengalami kondisi serupa.

Setiap dua minggu atau sebulan sekali, saya selalu tumbang karena kelelahan. Jam kerja yang shift-nya selalu berganti, kadang pagi, sore, malam ke pagi lagi menjadi tantangan tersendiri. Kami “sehat” karena rutin disuntik vitamin. Kalau sudah kelelahan, minta suntik, lalu bugar kembali. 

Setelah menjalani proses di SKPM, hampir dua tahun ini saya sama sekali tidak bersentuhan dengan obat-obatan rumah sakit. Saya justru merasa makin sehat, makin stabil, bahkan makin subur. 

Bukti paling sederhana: minus mata saya yang dulu 0,75 kini hilang (dicek di dua toko optik berbeda), meski silinder masih ada.

Bagi saya, ini bukan soal sugesti atau afirmasi semata. Ini adalah hasil dari proses penyembuhan dari akar: membereskan sisi gelapmerapikan pikiran, dan melatih kerendahan hati

Di titik inilah saya memahami peran meditasi di Persaudaraan Matahari Sekolah Kehidupan, bukan sekadar membuat pikiran terasa positif, bukan sekadar menguatkan energi, tapi membongkar dan menyembuhkan sumber penyakit itu sendiri.

 

Agnes Puteri
Pembelajar Sekolah Kehidupan Persaudaraan Matahari
30 Januari 2026

Share:

Reaksi Anda:

Loading spinner