Pijar Kesadaran

MINDFULNESS DAN CONSCIOUSNESS SEBENARNYA BUKAN BARANG PASARAN

25 February 2026 Setyo Hajar Dewantoro No Comments

Saat ini, kata consciousness, juga mindfulness, semakin populer hingga mendekati keadaan ini: jadi barang pasaran. Banyak sekali yang membicarakannya, dan tentu saja, penafsirannya jadi sangat beragam. Memang ini bagian dari ruang bebas, dimana tiap orang berhak menafsir sesuai dengan pengalaman dan tingkat pengertian masing-masing. Lagi pula, sertifikasi dalam bidang consciousness dan mindfulness sama sekali tidak menjamin validitas tafsir seseorang.

Manusia memang punya kecenderungan latah tanpa betul-betul punya penghayatan dan pengertian mendalam, dalam hal apa pun, termasuk dalam perkara ini: spiritualitas, kesadaran, hidup di momen saat ini di sini.  

Lah, memang saya sendiri punya penghayatan dan pengertian mendalam? Jangan-jangan SHD juga latah ikut trend, yang penting bisa ngomong dan ada yang percaya.  

Memang kebenaran tak selalu bisa dibuktikan dengan mudah, apalagi menyangkut perkara intangible dan abstrak. Perkara siapa yang benar-benar spiritualis, berkesadaran, dan selalu ada dalam mindfulness, bisa diperdebatkan panjang. Seringkali, kebenaran sejati tersingkap saat kematian. Masalahnya orang mati beneran nggak bisa bertestimoni lewat WA atau medsos. Sementara yang mengalami Near Death Experience (NDE) umumnya bicara pengalaman yang memproyeksikan isi pikiran bawah sadar dan sistem keyakinannya.  

Baik, saya akan ceritakan versi saya. Terserah Anda untuk menerima dan menolak.

Pertama, perkara kesadaran/consciousness/mindfulness itu memang isu penting di ranah spiritualitas. Sejak saya mengerti esensi dari spiritualitas dan ini hasil pengembaraan panjang secara fisik, intelektual dan jiwa, saya selalu menegaskan perkara-perkara ini:

Belajarlah untuk sadar penuh sepanjang waktu.
Beri perhatian penuh kepada momen saat ini di sini.
Capailah kesadaran murni.

Nah, terkesan ini semua hanya perkara kognitif atau semata-mata berkaitan dengan kemampuan berpikir dan mengelola pikiran. Padahal saya bicara tentang proses yang utuh tentang bagaimana manusia bisa berpikir secara tepat, dalam takaran yang pas, hingga kemudian malah melampaui pikiran. Saya bicara tentang sesuatu yang sangat dalam, tentang keilahian, tentang kekuatan dan kecerdasan tanpa batas, yang bagi banyak orang merupakan misteri karena tersembunyi di balik yang materi. Pembahasan saya mengarah pada upaya agar setiap manusia punya pengalaman mistik yang mendalam, tepat dan bermakna, berupa pengalaman Ketuhanan yang menyingkap rahasia diri, Jagat Raya dan Tuhan.

Saya mengajak Anda semua untuk mendapatkan jawaban atas segala hal yang dipikirkan dan digunjingkan oleh para filosof. Saya sih menilai diri saya beyond philosophers karena saya memberikan jawaban pada segala tanya, bukan sekadar mengajak mempertanyakan dan bertanya-tanya. Saya juga mengurai metodologi untuk mendapatkan jawaban itu.  

Sadar penuh adalah state of mind, keadaan pikiran yang terbentuk dari kecakapan mempraktikkan mindfulness: kecakapan mengelola pikiran sehingga tidak loncat ke sana kemari dengan liar – tidak hanyut dalam kenangan, bayangan, dan analisa berbasis prasangka, tapi penuh perhatian pada apa yang sedang dirasakan, dialami.  

Sadar penuh itu berarti kita menyadari gerak nafas yang natural, gerak dari energi yang menghidupi setiap sel tubuh, karena kita memperhatikan, merasakan dan menikmatinya dalam keadaan tubuh dan pikiran yang relax.  

Ini artinya, kita bisa merasakan setiap saat udara terhirup dan terhembus lewat hidung secara otomatis karena diatur lewat vagus nerve, hingga kita mengerti setiap nafas adalah momen istimewa karena kita jadi merasakan dan mengerti kenyataan dari keberadaan yang menghidupi, mengasihi, dan melimpahi anugerah pada setiap manusia. 

Ringkasnya, laku mindfulness yang sesungguhnya bermuara pada penyaksian dan penyadaran terhadap realitas Tuhan: pertama, realitas Tuhan yang menjadi esensi setiap jiwa dan bertakhta di ujung tarikan nafas natural – dinamakan Hingsun, Diri Sejati, Atmankedua, realitas Tuhan sebagai kecerdasan dan kekuatan tertinggi yang menggerakkan mikrokosmos dan makrokosmos dalam keteraturan yang menakjubkan – maka orang zaman dulu menamakannya Sang Hyang Jagadnata, Sang Hyang Hurip – Sing Nguripi; ketiga, realitas Tuhan sebagai keberadaan tanpa batas, kekosongan absolut yang menjadi sumber dari segala yang ada, meliputi segala yang ada – maka dinamakan Sang Hyang Suwung, atau orang-orang bule menyebutnya The Source.

Ini semua bukan semata perkara tahu dan mengerti. Ini tentang menyaksikan Tuhan yang nyata, sementara agama-agama menempatkanNya sebagai misteri yang harus tetap jadi objek kepercayaan bagi mayoritas manusia – karena hanya bisa dijelaskan oleh orang-orang pilihanNya, utusanNya. Lebih dari itu, ini semua tentang: 

  • hidup dengan landasan kasihNya,
  • hidup dengan mengakses kuasa dan kecerdasanNya yang membuat kita mencipta miracle karena segala sesuatunya menjadi tidak umum, melampaui batasan imajinasi yang dikenal kebanyakan manusia,
  • hidup dalam kesadaran menyatu bersama keberadaanNya,
  • hidup senantiasa selaras dengan gerak dan kehendakNya.
  • Makanya muara dari semua proses ini adalah kehidupan surgawi dan Bumi Surgawi.

Jadi, saya berbicara semua ini tidak dalam konteks pop culture & life style yang genit. Saya bicara kebenaran primordial, saya mengangkat kembali esensi ajaran dari semua Jiwa Ilahi atau para Avatar Agung yang pernah hidup di Bumi.

Mindfulness dalam praktik pribadi saya, bukan sekadar sadar saat sedang makan dan minum, ini tentang menjadi hening mendalam, terhubung penuh kepada sumber kasih murni, kuasa kecerdasan kecerdasan tertinggi yang menempati takhta suci di relung hati. Inilah proses terus menerus untuk membuat air suci, api suci dan cahaya suci bekerja di dalam diri sehingga terjadi purifikasi dan transformasi, dimana seseorang mencapai pure consciousness, menjadi pure soul, enlightenment, jernih persepsi, emosi, energi dan karmanya, hingga terealisasi kebangkitan kundalini, merkaba hingga metatron di dalam diri. Ini semua tentang hidup di dalam Tao, mencapai Tantra dan Sidhi, mengalami Jumbuh Kawula Gusti, mencapai Sangkan Paraning Dumadi. Yang saya praktikkan dan ajaran adalah Sastrajendra Hayuningrat Pangruwating Diyu.

Jadi ini semua bukan ajaran receh dan ngepop tentang cara cepat kaya, cepat dapat solusi instan untuk segala masalah hidup, dan mencicipi ketenangan sesaat di tengah kesibukan mengejar obsesi dan citra diri. 

Saya bicara metode untuk mencapai ini semua tak butuh ngerowot, ngebleng, kungkum 7 purnama, tapi cukup disiplin pikiran yang intensif dalam bentuk laku hening sepenuhnya selama melek, 7 hari dalam seminggu. Ringkasnya, metode dan tahapan mencapai tujuan tertinggi dalam laku spiritual lewat consciousness dan mindfulness versi saya, ternyatakan dalam Filosofi Hidup Neng Ning Nung Nang: Heneng Meneng Hening Wening Dunung Sinung Wenang Menang.  

Jadi, laku spiritual, consciousness dan mindfulness bagi SHD adalah tentang jalan dan metode purba untuk menjadi MANUSIA ILAHI, jadi KRISTUS.

Makanya yang akan tertarik mempelajarinya pasti sedikit, yang ikut belajar pun pasti kepontal-pontal, karena manusia kadung dikerdilkan – ajaran saya jadi beyond imagination & expectation. Ajaran saya terlalu absurd bagi siapa pun yang terbiasa jadi budak egonya dan tak mengenal suara Tuhan di relung hatinya. Manusia penghuni Bumi ini umumnya juga kadung telah dirusak sistem operasi, software dan hardwarenya, agar gampang diperbudak atas nama apapun: agama, adat, sains bahkan demokrasi.

 

Setyo Hajar Dewantoro
Guru Kehidupan
25 Februari 2026

Share:

Reaksi Anda:

Loading spinner