
Repress dan suppress merupakan mekanisme yang terjadi baik disengaja maupun yang telah menjadi autopilot, untuk memendam berbagai spektrum emosi destruktif: berbagai pikiran negatif, trauma, pemicu hormon stres, ketakutan, kemarahan, kekecewaan, kesedihan, dan sebagainya. Semua ini tidak bisa diucapkan, tidak terluapkan, dan tidak dihadapi dengan cara yang tepat.
Akhirnya, seluruh muatan tersebut hanya bergerak di dalam pikiran: ditekan, ditumpuk, dan disimpan sebagai kumpulan data atau rekam jejak toxic yang perlahan merusak kesehatan mental, emosional, dan fisik.
Ketika terjadi triggering event yang membuahkan gejala klinis sisi gelap, seperti cara berpikir, dinamika emosi, maupun tindakan berbasis sisi gelap (darkside/shadow), biasanya diperlakukan dengan respons berulang yang tidak menyembuhkan. Dalam istilah psikologi, respons-respons atau perilaku pencetus siklus ruminasi ini dikenal dalam berbagai bentuk, antara lain:
- Ditepis — biasanya dengan teori bijak.
- Diabaikan — dicuekin, dilupakan, atau dianggap tidak pernah terjadi.
- Dialihkan — melalui berbagai distraksi yang memberikan kesenangan sesaat.
- Disangkal — menolak realitas bahwa dinamika itu benar-benar terjadi.
- Reframing — menganalisis dan menciptakan narasi pembenaran, misalnya dengan mengingat kebaikan pencetus trigger, atau karena takut kehilangan manfaat tertentu.
- By-passing — menggunakan praktik, ajaran, atau teori yang dianggap bijak sebagai jalan pintas untuk menghindari, menekan, atau melarikan diri dari masalah emosional, trauma, dan luka psikologis yang belum terselesaikan. Ini adalah mekanisme pertahanan diri yang menyamar sebagai kedewasaan, sering kali menghasilkan toxic positivity sehingga selalu mengabaikan emosi negatif.
Semua pola ini pada dasarnya adalah mekanisme memendam, menyimpan, me-repress, suppress, mengubur, menyembunyikan, melarikan diri (escape), melindungi diri (self protection), menenangkan diri seperti memakai obat penenang dengan memaksakan positivity, dan lain-lain, yang ternyata hanya menekan jejak energi negatif ke dalam lapisan kesadaran. Siklus berulang yang ternormalisasi menjadi bagian dari hidup manusia, menumpuk data toxic yang kemudian menjadi invisible force dan impuls bawah sadar, serta memengaruhi cara berpikir, dan bertindak. Perlahan namun pasti ia menggerogoti kesehatan mental, emosi dan fisik, serta merajut bom waktu penurunan kualitas kesehatan di masa depan.
Sebelum mengenal hidup berkesadaran, saya pun mengalami hal yang sama. Pendidikan ala “wamil”, baik di rumah maupun di sekolah, memang membangun karakter determinasi yang kuat, tapi di satu sisi menghasilkan banyak luka dan angkara, sehingga sering menimbulkan pemberontakan. Saya kira memang hidup manusia normal ya seperti itu, tidak punya pengetahuan bahwa ada jejak sisi gelap (shadows/darkside) berupa luka, angkara, inner child, trauma, dan ilusi itulah yang menyebabkan degradasi kesehatan, baik secara mental, emosi, karakter, kesadaran, maupun fisik.
Dalam ‘Seni Hidup Berkesadaran SHD’ di ‘Sekolah Kehidupan Persaudaraan Matahari’ ditawarkan alat berupa teknik ‘Meditasi/Hening Penjernihan Diri’ yang menjernihkan dan membuka kesadaran. Alat yang dapat mengatasi gerak autopilot ini agar berdampak permanen, holistik, dan tidak menimbulkan efek samping. Me-rewire, menyembuhkan, mendetoks, menjaga kebersihan, habit tidak konstruktif yang selalu dinormalisasi, agar terjadi keseimbangan kualitas hidup secara holistik.
Manfaat meditasi/hening yang nonegoistik dan bukan solusi instan ini memang bukan seperti mie instan yang bisa dinikmati dalam waktu singkat.
Hasil yang grande dan holistik akan terjadi apabila menjalankan proses yang sepadan. Maka, membutuhkan proses latihan dan belajar yang intensional (deliberate practice), tidak bisa diperlakukan sebagai ritual untuk menggugurkan kewajiban saja, seperti melatih otot tubuh di gym. Banyak komponen yang perlu diperbaiki dan ditingkatkan secara paralel bersama melatih teknik meditasi/hening yang tepat.
Cobalah berefleksi diri, apakah latihan yang dijalani sudah berupa deliberate practice atau masih sekadar ritual menggugurkan kewajiban, sehingga masih langganan terjebak dalam respons berulang yang tidak menyembuhkan dan ‘siklus ruminasi‘. Apabila tidak segera diisi dengan perbaikan pola pikir dan perilaku yang sepadan, maka akhirnya hanya menanam/merakit bom waktu sendiri untuk jatuh tempo (jatem).
Membangun mental dan emotional resilience yang holistik memang sebaiknya dilakukan dengan cara yang tepat. Karena dengan repress suppress, upaya perbaikan bagi satu komponen malah berimbas mengorbankan komponen lainnya dan tidak terjadi kesetimbangan.
Tidak heran kan, banyak yang merasa mengalami perubahan cara berpikir dan perubahan sikap, tetapi tingkat kesadarannya tidak menunjukkan peningkatan, stagnan, atau malah menurun. Hal ini terjadi apabila perubahan sikap dan pola pikir belum masuk ke kedalaman kesadaran yang disertai dengan ketekunan praktik meditasi/hening dengan teknik yang tepat. Sehingga menjadi sangat rentan tercipta berbagai ilusi ‘PMS’ baru.
Perubahan memang bisa dihasilkan dengan perbaikan cara berpikir di area kognitif serta mendayagunakan akal yang lebih sehat dan lebih positif. Bahkan prestasi yang tinggi bisa dilakukan dengan high-functioning anxiety, yaitu tidak lain dengan cara me-repress dan men-suppress kecemasan, sebagai proyeksi ‘sisi gelap (darkside/shadows)’ yang dibungkus dengan segudang teori bijak, sehingga jejaknya makin meresap ke lapisan kesadaran.
Menjadi tidak reaktif dalam gejolak emosi, tidak mudah senggol bacok, dan menjadi mau menahan diri untuk tidak mudah bereaksi yang destruktif adalah salah satu bentuk pengendalian diri.
Tapi dalam seni hidup berkesadaran, perlu melangkah lebih jauh lagi ke kedalaman ruang kesadaran agar dapat menjalankan hidup bersama kesadaran yang lebih jernih.
Jangan terjebak menjadi sugestif dengan teori bijak saja, tetapi segera meditasi/hening dengan teknik yang tepat. Bawa perhatian yang tadinya sibuk dengan berbagai analisa, kalkulasi, penilaian dan mengingat teori bijak, kepada nafas natural. Supaya tidak terus terhanyut dalam proses analisis dan imajinasi yang rentan menciptakan narasi ilusi baru, sehingga merasa sudah mencapai sebuah titik berkesadaran.
Dalam Seni Hidup Berkesadaran SHD, kita semua diajak untuk melangkah lebih dalam lagi, membuka kesadaran dengan menjernihkan koleksi sisi gelap yang mendominasi kekuatan bawah sadar.
“Sparks of consciousness and personal insight are fostered by an open, humble attitude to recognize their own blind spots.” ~ The Art of Conscious Living
Ay Pieta
Pembimbing dan Direktur Persaudaraan Matahari
2 Februari 2026
Reaksi Anda:












