
Dulu saya pernah yakin bahwa saya sudah mengalami spiritual awakening soalnya sering ngerasa pagi-pagi bangun tanpa kesel dan marah-marah. Alarm bunyi, saya matikan dengan lembut. Bahkan, sempat senyum ke langit-langit kamar. Rasanya damai. Tenang. Berasa kayak tokoh utama film pencerahan yang habis dapat wahyu malamnya.
Tiga jam kemudian saya kesel, misuh-misuh cuma gara-gara paket yang saya tunggu belum dikirim juga. Kurirnya saya cek tiap 15 menit kayak mantan yang nunggu balasan chat. Hihi… jadi nyadar… ini sih bukan spiritual awakening – cuma karna belum lapar aja. Begitu perut kosong, kesadaran ikut brosot.
Dulu saya pikir spiritual awakening itu model momen sakral. Ada cahaya, ada getaran, terus ada backsound juga. Hidup langsung berasa naik level. Ternyata hidup saya masih sama. Motor masih rewel. Tagihan paylater tetap datang dengan percaya diri. Notifikasi bank lebih konsisten daripada komitmen saya. Lah… kalau saya masih gampang ke-trigger, masih gampang tersinggung, masih kepikiran omongan orang seharian, itu sih awakening-nya cuma imajinasi yang kebanyakan gugling tentang pencerahan.
Dari wedaran webinar semalam, dijelasin Mas Guru, kebangkitan spiritual harusnya bisa juga dilihat di perubahan karakter. Nggak gampang baper. Nggak gampang nyolot. Ngeluhnya berkurang. Nggak fanatik buta sama tokoh atau kelompok sampai akal sehat disuruh minggir. Bisa beda pendapat tanpa merasa harga diri runtuh. Itu lebih masuk akal daripada sibuk cerita pengalaman aneh, tapi tiap hari emosinya kayak kompor gas bocor, kegesek dikit langsung nyala.

Saya juga pernah ketemu orang yang pinter banget ngomong soal energi, karma, bahkan kehidupan past life. Ceritanya detail banget, seolah-olah dulu dia bangsawan kerajaan tertentu. Tapi kok hidupnya masih ruwet, gampang marah, gampang tersinggung. Jadi senyum sendiri, jangan-jangan saya juga pernah gitu. Ternyata kepandaian bertutur bukan tanda jiwa sudah jernih. Bisa ngomong tinggi bukan berarti sudah berubah. Kalau saya masih sulit bahagia, masih simpan kecewa kecil yang dipelihara diam-diam, ya berarti belum spiritual awakening. Sesimpel itu.
Yang juga bikin saya jauh dari kejernihan itu pikiran yang liar. Satu komentar kecil bisa saya kembangkan jadi film tiga episode lengkap dengan konflik dan plot twist-nya. Padahal mungkin orangnya cuma ngetik sambil nguap. Kalau pikiran nggak dikelola, ya hidup berasa berat terus. Mau pakai istilah spiritual setinggi langit, tetap aja capek sendiri. Isi kepala jadi kayak kos-kosan, semua emosi numpang lewat tanpa bayar.
Sekarang saya mulai nggak terlalu sibuk kepo, “Saya sudah awakening belum?” Saya lebih nanya, “Hari ini saya lebih waras nggak?” Kalau hari ini saya bisa menahan diri untuk nggak ikut drama, nggak ikut nyinyir, nggak kebawa arus emosi, mungkin itu langkah kecil. Nggak heboh. Nggak ada cahaya turun dari plafon juga. Tapi, beneran nyata.
Jadi menurut saya, misteri spiritual awakening itu bukan kayak pengalaman spektakuler penuh cahaya bertaburan. Bukan di cerita-cerita yang bikin orang melongo. Tapi di perubahan karakter yang lebih baik dan konsisten. Kalau saya masih amburadul, ya saya akui amburadul. Lalu diberesin pelan-pelan. Nggak perlu terlihat lebih pintar atau lebih suci. Yang penting lebih waras, lebih jernih, dan nggak ngerugiin siapa-siapa.
Itu aja dulu….
Thomas Theo Roberto
Refleksi Webinar MISTERI SPIRITUAL AWAKENING
15 Februari 2026
Reaksi Anda:












