
Terminologi guru ini memang sering diperdebatkan jika menyangkut ranah spiritualitas, meditasi, dan kehidupan. Ada yang berpendapat, di ranah-ranah itu tak perlu ada guru; setiap orang bisa menjalankannya tanpa ada pihak lain yang menjadi guru. Yang dianggap guru adalah dirinya sendiri.Â
Tapi, tentu ada yang berpendapat bahwa seseorang yang belajar spiritualitas, meditasi, dan kehidupan harus dibimbing guru yang mumpuni. Tentu ada juga yang menempatkan seorang guru di ranah tersebut sebagai sosok yang harus sangat dihormati.Â
Saya mau cerita pengalaman saya saat ini. Saya memang menjalankan peran membimbing, mengajari, mendidik, mengasuh, banyak orang yang berminat belajar spiritual, meditasi atau keheningan, dan tentu saja ilmu kehidupan – dengan segala tujuannya. Logis jika kemudian saya dilabeli guru spiritual, guru meditasi, guru keheningan, dan guru ilmu kehidupan. Â
Apakah mudah menjalankan peran ini?
Karena saya bukan tipe jarkoni (isa ujar lan ajar ning ora isa nglakoni), tentu sebenarnya tak mudah jadi seorang guru. Meski sebenarnya buat saya nggak sulit-sulit amat karena saya sudah terbiasa hidup dengan ajaran yang saya tuliskan dan bicarakan. Saya adalah teladan hidup dari semua ajaran di Persaudaraan Matahari. Ajaran di persaudaraan ini dibangun dari pengalaman laku pribadi yang otentik. Porosnya adalah hening kapan pun di mana pun, serta setia penuh pada tuntunan Gusti yang muncul dari relung hati.Â
Saya sunguh-sungguh menjalankan dua prinsip ini. Saya memastikan saya punya kualitas hening formal dan informal yang selalu tinggi. Saya juga memastikan selalu ada dalam kejernihan persepsi, emosi, karma, dan energi. Dan ini yang paling penting, saya sangat setia pada titah Gusti pada segala hal yang menyenangkan dan tidak menyenangkan, masuk akal maupun tidak masuk akal.Â
Tentu saja, kami di Persaudaraan Matahari terus berupaya meningkatkan kualitas pembelajaran. Dari sisi semua aspek pedagogik, sekolah kehidupan yang satu ini, telah mengalami upgrading yang luar biasa dibandingkan tahun-tahun pertama berdiri.
Namun, tentu saja tidak semua orang cocok. Di tahun 2023, pembelajar yang tercatat di database ada 1500 orang. Sekarang di 2026 tinggal sekitar 500 orang. Yang intensif ikut program belajar ya di kisaran 50%nya.
Tentu yang serius belajar benar-benar mengalami transformasi. Yang nggak serius malah kopeg dan banyak cari alasan ya hidupnya jadi rumit dan ruwet. Pada akhirnya semua kembali kepada pilihan masing-masing. Saya sebagai guru hanya bisa mengajarkan jalan keselamatan, menteladankannya, tapi tidak bisa menjamin Anda selamat karena semua tergantung pilihan Anda.Â
Saya sih selalu totalitas. Sebagian pembelajar berjatah dapat retreat khusus alias saya omeli dengan serius. Lainnya ya diberikan jangkar pengaman lewat Webinar. Tapi sekali lagi, pilihan sikap Anda yang menentukan keselamatan diri. Bagaimana Anda mau memastikan keselamatan jiwa jika arahan saya diiyakan saat Anda ada di depan saya, lalu dibantah dan nggak dijalankan saat Anda di belakang saya?
Yang mengalami stagnasi, bahkan ambrol secara tingkat kesadaran dalam kesadaran, pasti karena punya kebandelan tertentu.
Satu lagi, ini isu penting: tidak mudah bagi murid dengan tingkat kesadaran tertentu, konsep ideal tertentu, untuk memahami Sang Guru yang konsisten mengikuti gerak Semesta yang zigzag.
Setyo Hajar Dewantoro
Guru Kehidupan
28 Maret 2026
Reaksi Anda:












