Pijar Kesadaran

SHALAT

5 June 2026 Setyo Hajar Dewantoro No Comments

Shalat adalah Riyadhoh Ruhaniah.

Saya kemudian mengerti, mestinya saya betul-betul mengerti bahwa shalat adalah latihan spiritual. Tujuannya adalah membuat diri ini menjadi sadar penuh atas keberadaan Allah, sadar sepenuhnya terhadap rahman dan rahimNya, juga kuasaNya di setiap tarikan dan embusan nafas. Dan, dampaknya adalah terpicunya proses tazkiyatun nafs menuju keterbebasan dari kekejian dan kemungkaran.

Jadi, yang sebetulnya sangat penting adalah bisa menjalankan shalat secara khusyuk. Secara etimologi, kata khusyuk berasal dari bahasa Arab khasya’a (خَشَعَ) yang berarti tunduk, merendahkan diri, takluk, diam, dan tenang. Dalam konteks shalat, khusyuk bisa dimaknai sebagai sikap memberi perhatian penuh – dimana pikiran tidak loncat ke sana kemari, tidak hanyut dalam kenangan, bayangan maupun analisa. Khusyuk juga berarti meresapi sepenuhnya setiap ucapan dan gerak dalam shalat, sadar penuh atas keberadaan Allah dengan rahman, rahim dan kuasaNya di setiap nafas, serta sikap berserah diri dan pasrah yang total. 

Maka, untuk bisa shalat dengan khusyuk, setelah membenahi landasan persepsinya, yang kemudian harus dilakukan adalah memastikan bahwa shalat tidak dilakukan dengan terburu-buru atau tergesa-gesa. Shalat harus dilakukan dengan rileks, dinikmati, dan disadari sepenuhnya setiap gerak tubuh dan setiap ucapannya. Dan, tentu saja harus diperhatikan, dirasakan, diresapi, disadari, setiap tarikan dan embusan nafas selama shalat, sehingga tersadari bahwa Allah senantiasa bersama kita, juga senantiasa mengasihi, menyayangi, menaungi dengan kuasaNya, serta melimpahkan anugerahNya sepanjang waktu.

7 Langkah Shalat Khusyuk

Bacalah dengan sungguh-sungguh panduan yang lebih terperinci tentang shalat khusyuk ini:

Pertama, mulai dengan melakukan wudhu secara khusyuk juga. Laksanakan setiap proses dalam wudhu dengan rileks, dinikmati, disadari, direnungkan filosofinya, jangan tergesa-gesa. Wudhu adalah simbol tekad dan harapan setiap diri untuk menjadi suci/murni jiwa dan raganya: mulut dan ucapannya, hidung dan penciumannya, telinga dan pendengarannya, kepala dan pikirannya, wajah dan pandangannya, tangan dan tindakannya, kaki dengan segenap langkahnya.

Kedua, saat bersiap untuk shalat dengan berdiri, pastikan tubuh dalam keadaan rileks, resapi keberadaan tubuh, rasakan dan sadari setiap tarikan dan embusan nafas yang menjadi jalan mengalirnya energi hidup bagi tubuh. Mulai berterima kasih atas anugerah Allah berupa tubuh dan kesempatan hidup di Bumi ini.

Ketiga, saat memulai shalat dengan takbir, bersikaplah rendah hati, berjuanglah untuk meluruhkann ego, melepas segala hasrat egoistik, mulai sepenuhnya resapi setiap tarikan dan embusan nafas, sadari keberadaan Allah dengan rahman, rahim dan kuasaNya yang meliputi segala yang ada.

Keempat, setiap bacaan dalam shalat dilakukan dengan syahdu, sembari meresapi nafas, sembari meniti jalan nafas untuk terhubung dengan Baitullah di relung hati, menyadari keterhubungan dengan Nur Muhammad sebagai Tajalli Allah yang abadi dan murni. Biarkanlah muncul makna dari relung hatimu, sehingga dengan shalat dirimu menjadi makin bijaksana dan punya kesadaran yang murni.

Kelima, setiap gerakan, sungguh-sungguh perhatikan, rasakan, nikmati dan sadari. Rasakan dan sadari energi hidup yang diberikan Allah, yang mengalir di tubuhmu. Sadari keberadaan Allah yang tanpa batas yang senantiasa meliputimu, senantiasa menghidupi jiwa dan ragamu, menggerakkan organ-organ di tubuhmu. Bersyukurlah dengan sepenuh hati atas segala anugerahNya yang nyata, dan bersukacitalah dalam momen mi’raj ruhanimu ini.

Keenam, saat ruku’, sujud, bersungguh-sungguhlah untuk berserah diri, menyadari keagungan, kemahabesaran, dan ketanpabatasan Allah. Luruhkan seluruh egomu, lepaskan segala hasrat egoistikmu, pasrahkan dirimu secara total, biarlah yang terjadi dalam hidupmu adalah apa yang sesuai dengan kehendak, kasih sayang, dan keadilanNya.

Ketujuh, tutuplah shalatmu dengan memancarkan energi kasih sayang dan kedamian ke sekelilingmu, doakan dengan sungguh-sungguh agar semua makhluk mendapatkan kebahagiaan dan keselamatan.

Jika ketujuh panduan di atas dilakukan, shalat pastilah jadi momen mi’rajul mu’munin. Shalat juga pasti menjadi tiang agama, karena menjadi mekanisme yang efektif dalam membangun kesadaran murni dan karakter luhur sebagai tujuan esensial dari agama.

Satu catatan penting, sikap penuh kesadaran sebagaimana dipaparkan di atas, semestinya juga kita jaga di seluruh waktu melek kita. Sambil duduk santai, sambil bekerja, sambil apapun, toh kita tetap bernafas. Jadi, teruslah merasakan dan meresapi nafas, teruslah menyadari rahman, rahim dan kuasa Allah, teruslah menyadari keterhubungan dengan Nur Muhammad di relung hati – di ujung tarikan nafas alami. Inilah yang disebut sebagai Shalat Da’im, shalat yang tak pernah terputus karena dilakukan selama kita hidup dan melek. Inilah sebetulnya yang saya jalankan selama bertahun-tahun secara konsisten, hingga saat ini dan tentu saja bakal seterusnya.

 

Setyo Hajar Dewantoro
Guru Kehidupan
5 Juni 2026

Share:

Reaksi Anda:

Loading spinner