Skip to main content
Pijar Kesadaran

MENJADI PENGEMBARA DI ZAMAN MODERN

13 May 2024 Setyo Hajar Dewantoro No Comments

Saat ini, saya memang bisa disebut Sang Pengembara karena seringnya melakukan perjalanan, baik ke luar kota dan luar negeri. Tapi memang ada perbedaan esensi dan tujuan pengembaraan saya dengan para pelancong pada umumnya yang bepergian untuk menemukan hiburan. Termasuk berbeda pula dengan backpacker dan traveller yang mencari keseruan perjalanan, yang memburu kuliner yang eksotis atau tempat-tempat dan kebudayaan unik.

Dalam kasus saya, jadwal pengembaraan, mode perjalanan, maupun tempat yang harus saya kunjungi, tidak didasarkan pada kemauan pribadi atau hasrat ego saya, tidak juga berdasarkan dogma karena saya sudah tak punya dogma yang menghuni pikiran. Termasuk kesemuanya tidak lagi ditentukan oleh akal sehat saya; segala bentuk perhitungan nalar seringkali justru harus dilampaui. Penentunya adalah apa yang sering saya bahasakan sebagai Titah Gusti atau Gerak Semesta. Titah Gusti atau Gerak Semesta ini muncul dari relung hati, ditangkap oleh Rasa Sejati yang terhubung dengan otak sehingga bisa dimengerti dalam kesadaran ragawi. Darimana saya tahu itu bukan bisikan demit yang membo-membo atau menyamar? Jelas jawabannya, saya sudah terlatih dalam keheningan, jam terbang saya sudah tinggi untuk punya keahlian membedakan antara “titah yang asli dan palsu”, dan lihat saja dari buahnya.

Saya jelas menikmati perjalanan yang saya lakukan, termasuk menikmati kuliner yang bisa ditemukan, juga segala pemandangan indah dan keeksotisan budaya di berbagai tempat. Tapi itu cuma bonus atau hadiah sampingan. Hal utama yang saya kerjakan sebenarnya terdiri dari dua hal: (1) KERJA PENYELARASAN dan (2) MENJEMPUT ANUGERAH.

Terkait dengan yang pertama, yang biasa saya lakukan adalah memberkati orang-orang di negeri yang saya kunjungi dengan melimpahkan cahaya kasih dan kesadaran murni. Lalu yang biasa saya lakukan adalah mereaktivasi mandala kuno dan membangkitkan energi purba – yang seringkali tertutup karena manusia di berbagai generasi melupakan kesadaran murni dan hidup hanya dengan hasrat egoistik dan segala prasangkanya; mereka melupakan keagungan dan keilahian dari tanah air yang mereka tempati. Berikutnya, adakalanya saya harus melebur kuasa kegelapan yang menjerat suatu kawasan dan mengerdilkan kesadaran spiritual warganya.

Sementara hal kedua, berkaitan dengan fakta bahwa saya harus terus belajar dan bertumbuh secara spiritual. Lewat berbagai momen selama pengembaraan, saya digembleng untuk menjadi semakin murni, semakin berserah diri, semakin melepas kemelekatan pada apa pun, semakin juga melampaui kecenderungan dan perhitungan manusiawi dalam segala hal. Acapkali juga saya harus mengunduh pengetahuan kuno tertentu di tempat tertentu. Lewat tindakan itu, dan sebagai imbal balik kosmik atas kerja penyelarasan yang tuntas dilakukan, saya mendapatkan ANUGERAH YANG LUAR BIASA. 

Apakah anugerah itu? Pertama, jelas pertumbuhan spiritual saya tak pernah mandek, selalu ada loncatan dalam kenaikan tingkat kesadaran, selalu ada pengetahuan baru yang saya mengerti dan bisa saya sampaikan. Kedua, saya juga di-upgrade dalam kapasitas energi kosmik dan kemampuan diri. Saya ditingkatkan kemampuannya sebagai the alchemist, sebagai light warrior, sebagai leader, sebagai entrepreneur, sebagai arsitek perubahan, dan lain sebagainya. Ketiga, tubuh saya juga ditransformasi agar bisa bertahan selama mungkin dalam mengemban tugas yang sangat besar, serta butuh daya tahan dan kesinambungan. Keempat, terjadi penggenapan segala faktor dan persyaratan untuk merealisasikan keberadaan “kendaraan canggih” atau “institusi yang penuh daya” sebagai wahana untuk memperjuangkan pencapaian visi Bumi Surgawi.

Perjalanan seperti yang saya lakukan, tak mungkin bisa dijalankan jika masih berpikir hal seperti untung rugi, penghematan uang agar bisa nabung, dan hal semacam itu. Juga tak cocok bagi yang manja, lemah, dan mementingkan ego. Ini perjalanan hanya bagi mereka yang punya totalitas dalam perjuangan luhur dan punya kesetiaan penuh pada Gusti.

 

Setyo Hajar Dewantoro
12 Mei 2024

Share:
×

Rahayu!

Klik salah satu tim kami dan sampaikan pesan Anda

× Hai, Kami siap membantu Anda