Refleksi

Ambisi Untuk Rileks

8 January 2026 Ay Pieta No Comments
Ambisi Untuk Rileks Featured - Persaudaraan Matahari Sekolah Kehidupan

Rileks menjadi hal yang kompleks apabila memasuki arena seni hidup berkesadaran yang murni. Karena rileks yang menjadi pintu gerbang bagi keheningan (meditative state), merupakan objek yang dikejar dengan ambisi dan obsesi, bahkan tidak jarang menjadi frustasi hanya untuk rileks. Ambisi untuk rileks adalah situasi yang menegangkan dan double kill sehingga semakin menjauh dari rileks.

Mengalami fase relaksasi yang natural tanpa intervensi produk imajinatif yang sugestif ternyata sulit diciptakan apabila kadung tercipta habit autopilot gerak pikiran yang selalu diatur ego. Mau rileks pun jadi situasi penuh kontrol demi mencapai zona yang dianggap nyaman.

Yang terbiasa mencari relaksasi berupa kenyamanan sensasi, justru menikmati momen tersebut menjadi tanda menurunnya tingkat kesadaran. Momen nyaman dan rileks diartikan sebagai situasi ngantuk sepoy-sepoy hadir, lamunan yang menjauhkan dari ketegangan hadir, dan kemudian tertidur. Definisi rileks adalah mengantuk dan tidur, sebagai antitesis bagi kelompok overthinking dan over-analitik – wah susah amat ya rileks

Padahal yang dimaksud rileks adalah kondisi yang tidak tegang, namun tetap sadar penuh sehingga bisa terus-menerus merasakan nafas natural keluar masuk di jalur pernapasan.

Manusia cenderung menggunakan imajinasinya untuk membentuk situasi yang nyaman di dalam pikirannya. Kegiatan imajinasi ini bisa berupa kreativitas yang konstruktif, namun bisa juga berupa coping mechanism untuk menyembunyikan pendaman bawah sadar dari berbagai kisah yang tidak nyaman. Imajinasi menjadi jalan ninja melarikan diri dari situasi yang dianggap tidak nyaman, merupakan rekaman memori yang pernah tersakiti dari sebuah situasi.

Dalam sebuah literatur disebutkan bahwa ketika hormon stres meningkat, maka akan menurunkan laju pertumbuhan atau regenerasi sel. Sains membuktikan bahwa sel tubuh akan mengikuti kemana energi bergerak, kemana perhatian diarahkan dan bagaimana persepsi dibentuk. Maka, persepsi yang diprogram berdasarkan trauma, luka batin,  ketakutan (fear-base) dan jejak ‘sisi gelap (shadow/ darkside) lainnya, membentuk kerangka kognitif terhadap mode pertahanan diri.

Ambisi Untuk Rileks - Persaudaraan Matahari Sekolah Kehidupan


Maka, 
Seni Hidup Berkesadaran mengajarkan tentang relaksasi yang tidak hanya di tataran kognitif dan sensasi fisik saja, tetapi tentang menjaga kesetimbangan antara rileks dan kondisi tetap sadar penuh, sehingga berdampak pada proses membersihkan sisi gelap di setiap lapisan kesadaran. Relaksasi yang lebih mendalam bukan dalam konteks tidur nyenyak, tetapi relaksasi yang menciptakan ‘Stillness. Dengan menjadi rileks dan menjaga ketekunan bermeditasi/hening penjernihan diri, sama saja seperti menjaga kebersihan diri melalui praktik mindfulness. Melakukan self care dan self compassion yang menyembuhkan dan mendetoksifikasi, serta membantu menata kecerdasan emosi. Secara holistik menjaga kesehatan mental maupun fisik, yang bisa dijaga sampai akhir hayat.

Menjadi rileks yang disertai dengan kesadaran memang perlu belajar dan berlatih dengan konsisten, agar kemudian bisa menjadi autopilot yang konstruktif dan berdampak. 

Berangkat dari kerendahan hati, maka sebuah perjalanan membangun habit autopilot akan dimulai dari intensi sebagai percikan kesadaran. Yakni, harus ada kemauan untuk menata mindset. Kalau nggak mau ya nggak jadi sebuah kesadaran yang stabil.
Kalau mau berendah hati menata mindset, maka akan menjadi behaviour, mulai memilih sikap yang tepat. Sifatnya bisa hanya sementara, angot-angotan, on-off, bisa juga menjadi stabil apabila memakai bumbu kebulatan tekad untuk memilih sikap yang tepat setiap saat, sehingga menjadi practice yang disertai dengan komitmen dan konsistensi di atas landasan kesadaran bukan dengan pondasi sigel (takut, pencitraan, dll).

Practice yang deliberate dan konsisten akan menjadi habit. Apabila habit ini dilakukan dengan landasan kesadaran yang jernih, maka menjadi autopilot yang menyehatkan, tanpa efek samping. Kalau pondasinya sisi gelap, tentu perlu bersiap-siap jatem (jatuh tempo) kesehatan mental dan fisik. Habit yang dijaga konsistensinya akan berkembang menjadi gaya hidup atau sebagai second nature. Dan apabila terus dijaga dalam konsistensi dan kestabilan maka bonusnya adalah menjadi bagian dari diri – becoming who you are – menjadi karakter, bahkan tercetak dalam DNA yang bisa diwariskan ke generasi berikutnya.


“Impatience is merely a form of attachment and needs to be controlled, yet comfort doesn’t have to be complicated.” ~ The Art of Conscious Living

 

Ay Pieta
Pembimbing dan Direktur Persaudaraan Matahari
8 Januari 2026

Share:

Reaksi Anda:

Loading spinner