Ajaran Pencerahan

BINAH

28 September 2026 Setyo Hajar Dewantoro No Comments
Binah - Understanding Consciousness

Understanding
Consciousness

Kembali kita membahas Sefirot, saluran Ilahi atau Atribut dari Ein Sof yang mengejawantahkan keberadaanNya sebagai Jagat Raya dengan segala isinya dan dinamika kehidupan di dalamnya. Kita menghayati dan memahami realitas Sang Tanpa Batas dari kualitas dan atribut yang jelas kita saksikan dalam pergerakan Jagat Raya.

Tak aneh jika ada mistikus yang menyatakan, “Kurasakan keberadaan Sang Maha Sadar di balik keberadaan Jagat Raya.” Demikianlah adanya. Di balik pertumbuhan sebutir biji menjadi satu pepohonan, di balik pergerakan jantung dan paru-paru manusia, juga di balik perputaran planet-planet di orbitnya, kita bisa saksikan realitas kecerdasan tertinggi: Ia bukan sosok yang bisa dicerap panca indera, tapi Ia ada dan nyata sebagai yang tanpa batas, yang meliputi segalanya, menjadi esensi segalanya, yang darinya mengalir energi yang menggerakkan semuanya secara sistemik, harmoni, dan presisi. 

Manusia Ilahi, tentu saja merealisasikan kualitas dan atribut ini pada dirinya. Manusia menghayati Binah sebagai Sefirot yang membentuk segitiga kesetimbangan pembentuk KESADARAN MURNI bersama Chochmah dan Keter. 

Bagaimana manusia punya kualitas dan atribut ini?

Pertama, optimalkan KESADARAN RAGAWI. Manusia dengan tubuh fisik, memiliki otak sebagai mesin kesadaran ragawi. Dengan otaknya – yang terhubung dengan panca inderanya, manusia bisa sadar akan keberadaan dirinya, ia mengerti tentang keunikan, identitas, dan keadaan dirinya. Ketika manusia meluaskan cakrawalanya, ia menjadi mengerti realitas Jagat Raya. Baik dalam rangka memahami kenyataan diri maupun Jagat Raya, yang harus dilakukan adalah mengoptImalkan fungsi OBSERVASI. Teliti, tineni, dari situ bisa mengerti. 

Dengan kesadaran ragawi, manusia bisa mengerti hukum semesta dan hukum kehidupan, sehingga bisa menentukan langkah yang berdampak keselamatan, kesejahteraan, kebahagiaan. Antitesis dari BINAH adalah banyak berkhayal, berprasangka, hanyut dalam dogma ilusif. Binah juga sirna jika manusia memilih untuk terus mabuk, tertidur terus menerus, atau korslet otaknya. Observasi yang cermat dan objektif, serta analisis yang logis secara konsisten, adalah kunci memiliki KESADARAN RAGAWI yang utuh.

Di atas KESADARAN RAGAWI ada KESADARAN JIWA. Inilah kemengertian seorang manusia yang tak hanya menggunakan otak dan panca indera. Kesadaran ini muncul dari pengakuan terhadap realitas jiwa yang memiliki pengetahuan dan pemahaman hasil dari perjalanan panjangnya di berbagai lintasan kehidupan. Pada manusia, pengetahuan, dan pemahaman ini tersimpan di DNA pada sel dan chip di tulang ekor. Ia terUNLOCK – antara lain – melalui meditasi yang menghubungkan dan menyelaraskan pikiran sadar, pikiran bawah sadar, dan pikiran tak sadar.

Di atas KESADARAN JIWA, ada KESADARAN ILAHI, KESADARAN YANG BERSUMBER DARI REALITAS ESENSI JIWA: RUACH HA KODESH alias DEWA RUCI, Gusti yang bertakhta di relung hati. Kesadaran ini terealisasi sempurna saat manusia tuntas mempurifikasi dirinya dan bisa mendayagunakan sepenuhnya RASA SEJATI. Pada keadaan ini, manusia mengetahui apa yang semula hanya diketahui oleh Tuhan. Mereka yang hidup dengan KESADARAN ILAHI bisa menyingkap banyak misteri tersembunyi, termasuk perkara isi hati orang dan visi Bumi di masa depan. 

Balik-baliknya, BINAH adalah buah hening yang tekun. Inilah karakter yang tumbuh pada siapa pun yang telah sukses melebur segala sisi gelapnya. Sisi gelap adalah noda dan tabir yang membiaskan pengertian/pemahaman/kesadaran.

 

13 September 2026
Setyo Hajar Dewantoro

Share:

Reaksi Anda:

Loading spinner