Skip to main content
Pijar Kesadaran

EGOISME PANGKAL KEGAGALAN BERSPIRITUAL

9 April 2024 Setyo Hajar Dewantoro No Comments

Ego adalah konsep diri sebagai entitas yang terpisah dengan diri lainnya. Mengacu pada keberadaan ego ini, maka saya berbeda dengan Anda, lalu Anda juga berbeda dengan tetangga bahkan saudara dan pasangan Anda (kalau ada). Ego menegaskan keberadaan manusia yang masing-masing punya free will lalu membentuk nasibnya sendiri berdasarkan pilihan dalam pikiran, perkataan, dan perbuatannya. Sampai di sini, ego adalah fenomena natural dan sangat lumrah melekat pada keberadaan manusia. Ego ada karena manusia punya kepala, otak, dan pikiran. Ego membentuk identitas yang berbeda untuk setiap manusia.

Dalam perspektif spiritualitas murni sebagai jalan keselamatan jiwa, maka jelas tidak diajarkan penyirnaan ego sebagai basis identitas yang unik untuk setiap manusia. Perbedaan dan keterpisahan kita karena kita punya kepala, otak, pikiran, bahkan jiwa yang berbeda, tidak harus disirnakan atau dihilangkan. Spiritualitas murni tidak hendak mencipta manusia yang tanpa identitas, tidak hendak memunculkan kelompok manusia yang serba sama tanpa ada keunikan untuk setiap diri. Ajaran spiritualitas murni menerima kenyataan bahwa sampai kapan pun saya punya identitas berbeda dengan Anda, saya juga punya cerita hidup dan merajut nasib yang berbeda dengan Anda.

Yang harus diluruhkan dalam laku spiritual adalah kecenderungan egoistik alias mementingkan diri sendiri, serta sikap takluk kepada hasrat egoistik yang dasarnya adalah: prasangka pribadi, norma sosial, maupun dogma religi dan tradisi.

Lebih lugas, ajaran spiritualitas murni mengajak setiap orang mengerti bahwa pada setiap diri selalu dimungkinkan adanya berbagai kehendak: kehendak badan, kehendak ego, kehendak nalar, kehendak jiwa, dan kehendak Tuhan.

Contoh kehendak badan adalah karena ngantuk lalu ingin tidur. Contoh kehendak ego: ingin mengumpulkan uang supaya bisa ke tempat yang dianggap suci, lalu sepulang dari sana punya gelar dan dihormati banyak orang. Contoh kehendak nalar, setelah mempertimbangkan dengan segala kebijaksanaan yang terbentuk dari pembelajaran nilai luhur sepanjang hidup lalu Anda punya kehendak untuk hidup damai, tentram, dengan mengambil keputusan yang memastikan itu terjadi. Contoh kehendak jiwa adalah kehendak untuk mengalami kebahagiaan sejati. Kehendak Tuhan pasti mendukung kehendak jiwa, terejawantahkan dalam tuntunan agar seseorang bisa meraih kehendak jiwanya sekaligus meraih rancangan agungnya.

Dengan menyaksikan kehidupan manusia saat ini, kita bisa mengerti bahwa mayoritas manusia hidup dengan sikap mementingkan diri sendiri dan mengejar segala hasrat egoistiknya. Manifestasinya yang bisa kita saksikan bersama antara lain adalah:

  • Orang-orang berebut jabatan tanpa peduli siapa yang paling layak dan berjatah.
  • Orang-orang merasa iri dengki kepada siapa pun yang dianggap mencapai apa yang mereka sangat inginkan.
  • Orang-orang bekerja sangat keras untuk mencapai sukses atau kemapanan finansial yang dianggap bisa menjamin kebahagiaan tapi lupa berjuang sungguh-sungguh memurnikan jiwa apalagi mau ikut serta mencipta bumi surgawi.
  • Sebaliknya ada orang yang memilih bermalas-malasan, cari enak dan senangnya sendiri, mengabaikan apa yang menjadi tanggung jawabnya.
  • Orang-orang susah sekali melepas ilusi yang diimaninya, karena ketakutan dan merasa tak nyaman ketika kehilangan iman.
  • Orang-orang sibuk dengan urusannya sendiri, dramanya sendiri, tak peduli dengan perjuangan suci yang membutuhkan perjuangan.
  • Tampak mau terlibat dalam kerja sosial, berderma, tapi sebetulnya itu hanya untuk pencitraan dan karena punya motif terselubung.

Sikap-sikap di atas adalah antidot atau lawan dari kasih murni dan kesadaran murni. Manusia yang tak kenal hening atau jarang hening pasti egoistik. Sementara yang tak dengan sepenuh hati mengubah sikap egoistiknya pasti tak akan berhasil dalam laku hening.

Jadi bagaimana solusinya?

Pertama, terus praktikkan hening formal dan informal dengan sungguh-sungguh dan tekun.

Kedua, sadari saat watak egoistik muncul dan jangan diikuti.

Ketiga, sering-seringlah melakukan pekerjaan bukan demi kepentingan Anda tapi demi kepentingan bersama; pergunakan uang Anda bukan untuk belanja barang yang Anda senangi tapi untuk membantu orang lain yang butuh atau mendukung perjuangan yang agung.

Saya teladankan sikap non egoistik yang sepenuhnya: bertindak hanya mengikuti titah Gusti bukan mau saya pribadi, termasuk mengeluarkan uang sepenuhnya sesuai tuntunan Gusti.

Catatan pamungkas: Tak ada Ksatria Bumi Surgawi yang skor egoismenya tinggi; tak mungkin Anda jadi manusia sempurna jika hidup dengan koridor ego dan takluk pada hasrat egoistik.

 

Setyo Hajar Dewantoro
9 April 2024

Share:
×

Rahayu!

Klik salah satu tim kami dan sampaikan pesan Anda

× Hai, Kami siap membantu Anda