Pijar Kesadaran

SASTRAJENDRA AJARAN KUNA YANG DIRAHASIAKAN

10 June 2026 Setyo Hajar Dewantoro No Comments

Setiap Manusia Harus Mengenali Esensi Ketuhanan di Dalam Dirinya

“Saya bisa mengerti penjelasan itu Bapak, karena saya menyaksikannya. Dan di sini, di perguruan ini, Bapak mengajarkan manusia untuk mengenali esensi Ketuhanan di dalam dirinya, dan mengerti bagaimana alur evolusi yang mengasyikkan dibentangkan bagi setiap jiwa. Di sini Bapak mengajarkan agar manusia bisa terbebas dari pusaran samsara, bisa mereguk bahagia sejati, bisa mengalami kehidupan surgawi. Setiap jiwa diberdayakan, bukan dikerdilkan. Setiap jiwa didorong mencapai versi terbaiknya – secara bertahap mencapai berbagai stasiun keselamatan yang pernah kita bahas mulai dari Shanaya, Shambala, Shangrilla, hingga Shalala.”

“Benar Sukesi. Sebenarnya pelajaran yang aku berikan, yang berlabel Sastrajendra Hayuningrat Pangruwating Diyu ini, punya visi jauh ke depan. Membawa jiwa mencapai puncak evolusi. Tapi setiap pembelajar tentu harus realistik, tahap demi tahap harus dilalui dengan tuntas. Tahap permulaan, ya masukilah dulu jalan keselamatan yang telah dibentangkan, dengan mempraktikkan hening secara tepat dan tekun, sehingga sisi gelap diri bisa benar-benar mulai luruh. Berjuanglah membereskan segala luka batin, watak angkara, ilusi, jejak dosa dan jeratan kuasa kegelapan. Capailah dulu stasiun keselamatan yang pertama, jika sudah bisa ya lanjutkan perjalananmu. Jikapun belum bisa menjadi Jiwa Ilahi, setidaknya mulailah menjadi manusia yang waras, yang hidup dengan akal sehat, yang bisa hidup penuh rasa syukur dan bahagia, sekaligus berdaya dan penuh karya yang berguna.”

“Terima kasih Bapak atas wedaran yang sangat berharga ini. Dengan meresapi wedaran Bapak, menjadi jelas bahwa segenap Jiwa Ilahi dan Keberadaan Ilahi sebenarnya bukan untuk dipuja-puja dan dirayu-rayu agar memenuhi keingin egositik manusia.”

“Tentu saja Sukesi. Jiwa Ilahi dan Keberadaan Ilahi, termasuk juga Manusia Ilahi, adalah prototype dari jiwa dan manusia yang sempurna. Maka mereka sewajarnya dijadikan sebagai teladan, menjadi model yang menginspirasi laku hidup kita. Kita tidak memuja-muja dan menggombali mereka, tapi kita berjuang agar seperti mereak dengan segala kemurnian dan kualitas keilahiannya.

Ajaran yang Bersumber dari Keberadaan Ilahi

Secara faktual, di banyak fase sejarah peradaban manusia di Bumi, berbagai Keberadaan Ilahi menunjukkan keberadaannya kepada manusia yang punya kelayakan. Keberadaan Ilahi ini lalu menyampaikan ajaran spiritual murni: mereka menjelaskan dengan terperinci cara manusia mencapai kemurnian jiwa, mereka mengajarkan cara bergerak maju dalam alur evolusi menuju kesempurnaan jiwa. Maka dari ajaran yang bersumber dari mereka, muncullah berbagai tradisi spiritual kuna – seperti yang ada di Mesir, China, Persia, Eropa hingga Nusantara. Kemudian, di banyak fase juga berinkarnasi para Jiwa Ilahi. Mereka dikenal sebagai Avatar, orang tercerahkan, yang secara fisik bisa dikenali dan dijangkau manusia lainnya. Mereka terhubung dengan Keberadaan Ilahi tertentu dan mengakses pengetahuan spiritual. Mereka lalu memberikan bimbingan tentang cara menuju keselamatan jiwa raga. Mereka menyingkapkan kebenaran sejati. Mereka membongkar segala ilusi yang membuat manusia jadi kerdil dan tak mengenal kebenaran sejati.

Sungguh beruntung jika engkau bisa belajar dari Inkarnasi Jiwa Ilahi. Meskipun seperti aku katakan, tidak ada jaminan keselamatan meski engkau telah bertemu dan belajar padanya. Karena pada akhirnya, semua tergantung dari pilihan lakumu.”

“Sangat bisa dimengeri Bapak. Saya termasuk yang beruntung karena bisa belajar dengan sangat intensif kepada satu sosok Inkarnasi Jiwa Ilahi. Dan tentu saja, saya juga sadar ini merupakan anugerah yang tak boleh disia-siakan. Maka saya belajar sangat tekun dan serius. Saya berjuang totalitas memurnikan jiwa dengan melebur sisi gelap yang pernah ada. Kini, saya bisa merasakan kehidupan surgawi, saya sungguh mengerti apa itu keselamatan jiwa seperti yang selalu Bapak sampaikan. Saya juga punya visi yang jelas untuk perjalanan jiwa ke depan. Hidup ini menjadi sangat mengasyikkan. Hidup di Bumi tak lagi jadi ajang menghabiskan waktu dan menunggu kematian – dengan segala drama yang mengiringinya. Hidup adalah kesempatan emas untuk bertransformasi menjadi Manusia Ilahi, Jiwa Ilahi bahkan Keberadaan Ilahi. Terima kasih Bapak, atas segala bimbingan yang Bapak berikan.”

“Terberkatilah selalu jiwamu Sukesi.”

Ucapan Resi Wisrawa memungkasi rangkaian dialog yang bisa dimuat di buku ini.

 

Setyo Hajar Dewantoro
Guru Kehidupan
10 Juni 2026

Share:

Reaksi Anda:

Loading spinner