
Nrima ing pandum. Ini pepatah Jawa yang sering salah diartikan sebagai sikap fatalis. Padahal sebenarnya ini tentang bersikap realistis, menerima kenyataan, agar tak hanyut dalam penderitaan. Pandum artinya bagian, jatah. Sudah jelas, dalam kerangka hukum Kosmik, pandum ini pasti sesuai dengan rajutan karma – pandum adalah hasil dari segala yang kita upayakan baik secara materi maupun non materi.
Menerima apa yang memang harus terjadi adalah cara terbaik untuk berdamai dengan kenyataan hidup. Tapi, prinsip nrima ing pandum sama sekali tidak bertentangan dengan semangat melakukan yang terbaik. Saya penghayat prinsip nrima ing pandum. Saat yang sama, saya juga selalu totalitas dalam menjalankan peran. Saya berjuang pada titik yang optimal, selalu melakukan yang terbaik yang saya bisa, dalam segala hal yang menjadi tanggung jawab diri.
Bangsa kita pernah menjadi bangsa dengan kekuatan maritim yang besar, bisa pula mencipta mahakarya arsitektur yang bertahan hingga zaman sekarang. Tak mungkin bangsa kita di masa lalu fatalis, pemalas, enggan mendayagunakan otaknya.
Tapi, kesadaran dan karakter setiap bangsa bisa berubah. Nyata adanya di masa kini sebagian anak bangsa memilih untuk jadi pemalas, hanyut dalam khayalan. Sebagian lainnya nggragas karena tak menerima apa yang jadi pandumnya. Inilah akar rusaknya kesetimbangan.
Etos pejuang, pekerja keras, yang berpadu dengan sikap nrima ing pandum, menikmati momen kekinian, bersukacita dengan apa yang ada, adalah hal-hal yang harus ditumbuhkan kembali pada bangsa kita. Jangan sampai pula bangsa kita jadi pekerja yang berlebihan kerasnya, full of control atas kehidupan, lalu jadi stres dan banyak yang bunuh diri.
23 Agustus 2026
Setyo Hajar Dewantoro
Reaksi Anda:












