
Seperti yang pernah saya ceritakan dalam artikel ‘Keheningan vs Otot’, ‘Latihan Ketulusan’, dan ‘Stillness’, ternyata memang ada penelitian para ahli yang membuktikan bahwa habit mengeluh dan penuh pikiran negatif akan menjadi pemicu hormon stres yang membuang energi dan membutuhkan energi lebih banyak lagi untuk pemulihan. Penjelasan saintifik tersebut memang relevan dengan teori dasar Seni Hidup Berkesadaran SHD, bahwa mengeluh dan tidak bersyukur adalah manifestasi sisi gelap (shadows/dark side) yang mengotori medan energi diri dan membuat hidup terjebak dalam roda penderitaan.
Membangun mindset bersyukur agar menjadi habit dan rutinitas bersyukur, bisa dibangun melalui repetisi ala robotik, maupun melalui sebuah aksi berkesadaran yang secara konsisten dilakukan dengan intensional dan penuh kesungguhan, atau biasa disebut dengan deliberate practise.
Mengutip Webinar Pemantik Kesadaran Setyo Hajar Dewantoro 25 September 2025 lalu berjudul ‘BENERAN AKAN TERJADI PERANG DUNIA KETIGA?’ bahwa kesadaran yang jernih ditandai oleh sikap hidup penuh kebajikan yang tulus, sikap yang mindful, tidak banyak mengeluh, tidak banyak prasangka buruk, tidak penuh kekhawatiran, tidak ketakutan dan tidak penuh kecemasan, tidak overthinking, lentur, adaptif, dan tangguh terhadap gerak perubahan dan ketidakpastian.
Sebagai praktisi hening/meditasi ‘Seni Hidup Berkesadaran’, saya memang menemukan logika tersebut tepat dan selalu konsisten. Saya membuktikan bahwa rasa syukur yang lebih mendalam dan konstan ternyata bisa diciptakan selama mau menjaga kesadaran yang meditatif. Dalam parameter standar ‘Sekolah Kehidupan Persaudaraan Matahari’ kondisi meditatif berasal dari hening mendalam dan memiliki kualitas hening minimal 10%. Rasa syukur yang tulus ternyata merupakan produk dari kualitas hening yang baik, dan diupayakan konsisten sepanjang hari.
Apabila belum mampu mencapai titik meditatif, rasa syukur bisa saja hadir secara natural ketika kita berada di titik paling pasrah dan tulus, namun durasinya sangat pendek dengan intensitas yang halus, sehingga seringkali tidak terasa apabila tidak disertai dengan lonjakan produksi hormon bahagia. Rasa syukur yang tulus memang terasa sangat bersahaja, berbeda dengan spektrum emosi yang euphoric.
Apabila rasa syukur dianalogikan sebagai sinar cahaya pada lampu, maka praktik hening/meditasi Seni Hidup Berkesadaran merupakan satu set komponen lampu sensor gerak (motion sensor), yang perlu terus-menerus diaktifkan agar lampu tetap menyala dan menghasilkan cahaya.
Hening/meditasi Seni Hidup Berkesadaran tidak bisa hanya dilakukan secara situasional saja. Hening/meditasi Seni Hidup Berkesadaran bukan seperti saklar manual pada lampu, di mana cukup satu kali ditekan maka lampu akan menyala terus-menerus sepanjang hari.
Hening/meditasi yang mencapai titik meditatif, merupakan hasil laku yang proaktif dan secara konsisten dilakukan terus menerus secara sadar, apabila ingin cahaya bersinar terus-menerus.

Sebenarnya isu mengenai rutinitas bersyukur sudah banyak ditelaah oleh para ahli, karena habit yang positif ini terbukti membangun jaringan saraf yang menyehatkan otak, mendukung produksi hormon bahagia, dan melatih ketangguhan kognitif melalui mindset yang bertumbuh (growth mindset). Penelitian menunjukkan bahwa orang yang rutin bersyukur memiliki tingkat hormon kortisol 23% lebih rendah, yang berarti stres berkurang dan membantu mengurangi efek penuaan dini pada otak.
Sebaliknya, para ahli membuktikan bahwa habit mengeluh atau turut hanyut secara emosi ketika mendengarkan keluhan orang lain, dapat merusak struktur jaringan neuron pada otak, tepatnya pada bagian otak berperan dalam pembelajaran dan memori. Ditambah lagi dengan peningkatan hormon stres yang konsisten, tentu akan berdampak pada penurunan fungsi kognitif dan imunitas.
Apabila banyak mengeluh, maka setiap keluhan menjadi mental block yang memperkuat jalur saraf untuk selalu berpikir pesimis, sehingga lebih mudah fokus pada kekurangan dan negativity ketimbang melihat dari sudut pandang yang positif. Inilah yang menyebabkan emosi menjadi tidak stabil sehingga sulit untuk berpikir dengan jernih, sulit mengambil keputusan, bahkan kehilangan motivasi, kreativitas dan produktivitas.
Bayangkan habit negatif yang kita ciptakan sendiri, membentuk autopilot negatif yang merusak kesehatan mental, emosi, dan fisik, sehingga menjadi bom waktu di kemudian hari. Dan, bayangkan apabila habit mengeluh tersebut digantikan dengan rutinitas bersyukur, maka dipastikan berdampak konstruktif dan menyehatkan bagi kualitas hidup secara holistik.
Di Sekolah Kehidupan Persaudaraan Matahari selain diajarkan bagaimana me-reset stres, meredakan overthinking dan kecemasan, sekaligus diajarkan untuk membangun rutinitas bersyukur sampai ke titik paling mendalam.
Diajarkan untuk melakukan brain spa, sekaligus membersihkan, menyembuhkan, dan mendetoks sumber masalah dan pencetus bawah sadar atas hobi negativity yang kadung menjadi autopilot.
Upaya perubahan dari arah luar yaitu dilakukan melalui perbaikan secara kognitif, menciptakan disiplin dengan me-wajib militerkan dulu aksi bersyukur, walaupun hanya di mulut saja. Paralel dengan upaya pembersihan akar sisi gelap/shadows/darkside dari dalam, menggunakan tongkat ajaib bernama hening/meditasi penjernihan diri, sehingga rutinitas bersyukur bisa menjadi habit dan gaya hidup yang menyehatkan, dan menjadi komponen self-development dan pembangunan karakter yang berdampak holistik.
Dalam menciptakan rutinitas bersyukur, tentu perlu dimulai dengan memperbaiki cara berpikir, memperbaiki sikap, serta praktik mindfulness yang menjernihkan dan membuka kesadaran agar berdampak awet dan menyehatkan.
“Consciousness remember what the mind forgets” ~ The Art of Conscious Living
Ay Pieta
Pembimbing dan Direktur Persaudaraan Matahari
14 Mei 2026
Reaksi Anda:












